Volume transaksi bulanan menggunakan kartu debit dan kredit yang terhubung dengan aset kripto melonjak sekitar 230% dibandingkan tahun lalu.

Kenaikan signifikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya adopsi stablecoin dalam sistem pembayaran global.

>>> Pria Sewa Studio Bioskop dan Ubah Layar Ala Netflix untuk Kejutan Ultah Pasangan

Laporan dari The Kobeissi Letter menunjukkan nilai akumulatif transaksi kartu pembayaran berbasis kripto telah menyentuh US$ 7,8 miliar atau setara Rp 138,8 triliun pada bulan ini.

Penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran kebutuhan harian melalui jaringan kartu konvensional menjadi motor utama lonjakan tersebut.

Dalam laporan yang sama, Visa tercatat mendominasi dengan menguasai sekitar 90% pangsa transaksi kartu kripto.

Keberhasilan ini dicapai melalui kolaborasi dengan berbagai perusahaan berbasis blockchain, termasuk Jupiter Global.

Jupiter Global merupakan proyek pembayaran yang diinisiasi oleh tim di balik bursa kripto terdesentralisasi Jupiter di jaringan Solana.

Peningkatan integrasi ini membuat akses terhadap stablecoin semakin mudah dan menyatu dengan layanan kartu pembayaran tradisional.

The Kobeissi Letter menggarisbawahi bahwa kemudahan dalam membelanjakan aset digital menjadi pemicu utama pertumbuhan ini.

Pengguna kini dapat memanfaatkan aset kripto untuk bertransaksi dengan cara yang serupa dengan mata uang konvensional.

"Lebih banyak pengguna kini dapat membelanjakan stablecoin layaknya mata uang fiat menggunakan kartu kripto, yang semakin mendorong adopsi," tulis laporan tersebut.

>>> Astronom Temukan Sisa Galaksi Purba Loki di Bimasakti

Kecenderungan ini membuktikan bahwa aset digital, khususnya stablecoin, semakin melekat dengan sistem keuangan tradisional.

Proses integrasi ini berjalan dinamis tanpa menggeser peran utama dari penyedia jaringan pembayaran raksasa seperti Visa maupun Mastercard.

Tren Penggunaan untuk Kebutuhan Sehari-hari