Presiden Ultimate Fighting Championship (UFC) Dana White sedang membangun arena pertarungan MMA sementara di halaman depan Gedung Putih.

Acara bertajuk UFC Freedom 250 Fan Fest dijadwalkan berlangsung pada 14 Juni 2026.

>>> Roma Bidik Scamacca Usai Atalanta Lepas Ederson ke MU

Persiapan sudah terlihat dengan pemasangan tribun penonton dan lengkungan raksasa di South Lawn Gedung Putih.

UFC telah merilis desain grafis yang menampilkan ribuan penonton mengelilingi pagar oktagon khas mereka.

Dalam wawancara dengan podcast NPR Newsmakers, Dana White mengungkapkan keengganannya terhadap pertarungan di luar ruangan.

"Ada dua hal yang saya benci. Saya benci stadion, dan lebih buruk dari stadion adalah bertarung di luar," kata White.

"Terlalu banyak variabel... hujan dan petir...

serangga," tambahnya.

Meski demikian, ia tetap melanjutkan proyek ini untuk merayakan momen penting bagi negaranya.

"Kami merayakan ulang tahun ke-250 Amerika di halaman Gedung Putih. Tidak ada kehormatan yang lebih besar dari itu, terutama bagi saya sebagai orang Amerika," ujar White.

>>> Como 1907 Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions

Ajang ini mempertegas hubungan panjang antara UFC dan Donald Trump yang telah terjalin sejak 2001.

Saat itu, MMA masih kesulitan mendapatkan izin tempat bertanding akibat reputasi olahraga yang dinilai buruk.

Trump kemudian mengizinkan UFC menggelar kompetisi di kasino Taj Mahal miliknya di Atlantic City.

Bisnis UFC kini bernilai miliaran dolar dan mengangkat profil para petarung tangguh yang mayoritas berasal dari latar belakang sulit.

"Orang-orang yang tangguh seperti ini berasal dari latar belakang yang keras," tutur White.

"Siapa Anda dan dari mana Anda berasal? Itulah yang saya jual setiap Sabtu malam," pungkasnya.

Acara di Gedung Putih ini menarik perhatian karena kontras antara latar belakang petarung UFC—banyak imigran dan pengungsi—dengan kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Trump.

>>> Ronald Koeman Coret Jeremie Frimpong dari Skuad Piala Dunia 2026

NPR juga menyoroti risiko cedera kepala yang diakui White sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari olahraga brutal ini.