Mengenal Atrofi Vagina: Kondisi Dinding Vagina Menipis Akibat Penurunan Estrogen
Atrofi vagina adalah kondisi medis di mana lapisan dinding vagina mengalami penipisan, kekeringan, hingga peradangan. Masalah ini dipicu oleh menurunnya kadar hormon estrogen dalam tubuh.
Hormon estrogen berperan penting menjaga jaringan vagina tetap tebal, elastis, dan lembap. Ketika kadarnya menurun, jaringan vagina menjadi rapuh dan kehilangan hidrasi alami.
>>> 7 Penyebab Perempuan Lebih Sering Pusing Dibandingkan Laki-Laki
Kondisi ini umumnya dialami perempuan yang sudah memasuki masa menopause. Namun, faktor lain juga bisa menyebabkan penurunan estrogen.
Penyebab Atrofi Vagina
Penurunan estrogen tidak hanya terjadi saat menopause. Perempuan pascamelahirkan dan selama menyusui juga mengalami fluktuasi hormon yang meningkatkan risiko atrofi vagina.
Penggunaan kontrasepsi hormonal tertentu atau terapi penekan estrogen juga menjadi pemicu. Selain itu, operasi pengangkatan ovarium dan riwayat pengobatan kanker seperti kemoterapi serta radioterapi memperbesar risiko.
Faktor gaya hidup turut memengaruhi. Kebiasaan merokok, belum pernah melahirkan normal, dan jarang berhubungan seksual termasuk faktor risiko.
Gejala Atrofi Vagina
Gejala bervariasi dari ringan hingga berat. Perempuan sering merasakan kekeringan, gatal, dan perih di area intim.
Keputihan berwarna kecokelatan atau kemerahan juga bisa muncul. Rasa terbakar saat buang air kecil dan frekuensi berkemih yang meningkat menjadi keluhan lain.
Penderita kerap sulit menahan buang air kecil atau mengalami inkontinensia urine. Infeksi saluran kemih dan infeksi jamur vagina yang kambuh terus-menerus juga menjadi tanda.
>>> Fajar/Fikri ke 16 Besar Singapore Open 2026, Jonatan Tersingkir
Flek atau perdarahan ringan setelah hubungan seksual sering terjadi. Nyeri saat berhubungan intim akibat kurangnya pelumas alami juga umum dialami.
Dampak Jika Tidak Ditangani
Gejala awal atrofi vagina sering tidak disadari. Beberapa perempuan hanya merasakan berkurangnya kelembapan saat berhubungan seksual.
Jika diabaikan, kondisi bisa memburuk. Iritasi berulang dan nyeri parah dapat mengganggu aktivitas harian serta keharmonisan dengan pasangan.
Deteksi dini sangat penting. Wanita disarankan tidak menyepelekan perubahan pada organ intim.
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasi ke dokter spesialis diperlukan jika gejala sudah berat. Tindakan medis dibutuhkan bila nyeri persisten muncul meski sudah menggunakan pelumas.
Tanda bahaya lain meliputi keputihan berbau tidak sedap, perdarahan vagina tanpa sebab jelas, atau keluhan yang menyertai gejala menopause.
>>> Umat Islam Sunnahkan Kumandangkan Takbir Idul Adha Selama Lima Hari
Segera periksakan diri jika mengalami hal tersebut.
Update Terbaru
BSI Raih Penghargaan The Best Investortrust Companies 2026
Kamis / 28-05-2026, 04:04 WIB
Hajime Iwaizumi: Dari Ace SMA Aoba Johsai ke Athletic Trainer Timnas Voli Jepang
Kamis / 28-05-2026, 04:04 WIB
Kementerian HAM Kecam Pembubaran Ibadah Gereja Misi Sejahtera di Bantul
Kamis / 28-05-2026, 04:04 WIB
7 Model Dress Wisuda Kekinian yang Unik dan Menawan
Kamis / 28-05-2026, 04:04 WIB
Tears on a Withered Flower Chapter 104: Jadwal Rilis, Spoiler, dan Tempat Baca
Kamis / 28-05-2026, 04:04 WIB
Jadwal Rilis The Forgotten Field Chapter 24 dan Spoiler
Kamis / 28-05-2026, 04:04 WIB
Secret Class Chapter 309: Jadwal Rilis, Spoiler, dan Cara Baca
Kamis / 28-05-2026, 04:03 WIB
Samsung Patenkan Dua Desain Ponsel Layar Gulung dan Sliding Baru
Kamis / 28-05-2026, 04:03 WIB
Ed Sheeran Tinggalkan Warner Music Group Setelah 15 Tahun
Kamis / 28-05-2026, 04:03 WIB
Ayu Ting Ting Siapkan Dana Khusus untuk Nonton Konser BTS di Busan
Kamis / 28-05-2026, 04:03 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 29 – 31 Mei 2026
Kamis / 28-05-2026, 04:00 WIB
Jadwal Bioskop Trans TV 29 – 31 Mei 2026
Kamis / 28-05-2026, 04:00 WIB
Surya Insomnia Ungkap Kunci Sukses Bertahan di Industri Hiburan
Kamis / 28-05-2026, 03:59 WIB
Cara Plotting Bidang Tanah Lewat Aplikasi Sentuh Tanahku
Kamis / 28-05-2026, 03:59 WIB






