Polres Pekalongan Kota Tangkap Pimpinan Ponpes Terkait Kasus Asusila
Polres Pekalongan Kota mengamankan seorang pimpinan sekaligus pengasuh padepokan berinisial AKF (54) di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan.
Penangkapan dilakukan pada Rabu, 27 Mei 2026, terkait dugaan tindak asusila terhadap sejumlah santriwati.
>>> Danantara Indonesia Trust Luncurkan Kemitraan Sosial di Kesehatan, Pendidikan, dan Budaya
Tim penyidik menggunakan metode scientific crime investigation untuk mengumpulkan barang bukti.
Pihak kepolisian membuka posko pengaduan dan menyediakan rumah aman (safe house) guna menjamin keamanan para santriwati yang menjadi korban maupun saksi.
Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Riki Yariandi, menyatakan bahwa tim gabungan lintas sektoral diterjunkan untuk memberikan bantuan psikologis bagi para korban.
"Kami turunkan tim gabungan dari Direktorat PPA dan PPO Polda Jawa Tengah, Dinas Sosial Pemkot Pekalongan, Dinsos Provinsi Jawa Tengah dan psikolog untuk memberikan pendampingan," ujar AKBP Riki Yariandi.
Langkah perlindungan di safe house menjadi prioritas karena status tersangka sebagai tokoh masyarakat memicu intimidasi dan ancaman yang sempat menghambat pelaporan.
>>> EDC BRI Kini Terima Pembayaran Alipay dan UnionPay
"Sementara ini baru 6 korban melapor, dimungkinkan akan ada korban lainnya juga melaporkan kasus ini," tambahnya.
Tim Kuasa Hukum Korban, Ahmad Fauzi, mendampingi enam mantan santriwati yang menjadi korban di Mapolres Pekalongan Kota.
Ia membeberkan bahwa aksi kejahatan seksual ini diduga telah berlangsung dalam kurun waktu belasan tahun.
"Kami mendampingi 6 orang korban, mereka merupakan mantan santriwati yang sudah memberikan kuasa dengan rentang waktu kejadian mulai dari tahun 2008 sampai 2025," kata Ahmad Fauzi.
Mayoritas korban masih di bawah umur saat peristiwa terjadi. Beberapa korban baru berusia 14 tahun pada 2008, dan korban pada kejadian tahun 2025 berumur 17 tahun.
>>> Ahmad Luthfi Salat Iduladha dan Serahkan Sapi Kurban di Huntara Capar
Posisi pelaku sebagai figur yang dihormati di lingkungan pesantren membuat para korban mengalami hegemoni, tipu daya, dan tekanan psikis berat sehingga baru berani melapor.
Update Terbaru
Dan Ndoye Samakan Skor untuk Swiss, Argentina 1-1
Minggu / 12-07-2026, 09:56 WIB
AS Bakal Kena Gelombang Panas Akhir Pekan Ini, Suhu Capai 43 Derajat
Minggu / 12-07-2026, 09:56 WIB
Senior Happy Run 2026 Jadi Wadah Lansia Tetap Sehat dan Bersosialisasi
Minggu / 12-07-2026, 09:56 WIB
Sorloth Tak Oper Haaland, Norwegia Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Minggu / 12-07-2026, 09:53 WIB
Inggris ke Semifinal Piala Dunia 2026, Bellingham Jadi Pahlawan
Minggu / 12-07-2026, 09:53 WIB
BPOM: Vape Ancaman Nyata bagi Generasi Muda Indonesia
Minggu / 12-07-2026, 09:52 WIB
Peacock Adaptasi Novel Elin Hilderbrand The Five Star Weekend ke Serial
Minggu / 12-07-2026, 09:14 WIB
Argentina Kalahkan Swiss, Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026
Minggu / 12-07-2026, 09:14 WIB
UFC Kembali ke Oklahoma City dengan Laga Du Plessis vs Usman
Minggu / 12-07-2026, 09:14 WIB
Paus Leo XIV Santap Siang Bersama 200 Orang Rentan di Castel Gandolfo
Minggu / 12-07-2026, 09:11 WIB
Massa Udara Dingin Turunkan Suhu Buenos Aires hingga 13 Derajat
Minggu / 12-07-2026, 09:11 WIB
Penembakan di Festival Toronto Tewaskan Dua Orang, Tiga Luka
Minggu / 12-07-2026, 09:11 WIB
Robot Humanoid Atlas Boston Dynamics Antarkan Bola di Piala Dunia 2026
Minggu / 12-07-2026, 09:07 WIB







