Pembagian daging kurban saat Iduladha harus dilakukan dengan hati-hati. Tujuannya agar kualitas daging tetap terjaga dan aman dikonsumsi.

Proses penyembelihan hingga distribusi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroba. Hal ini diingatkan oleh Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Muhamad Baihaqi.

>>> 4 Ciri Orang Ber-IQ Tinggi Terlihat dari Cara Ngobrol, Nomor 3 Penting

Kesalahan Umum dalam Penanganan Daging Kurban

Baihaqi menyebut praktik penyembelihan di Indonesia masih banyak dilakukan di ruang terbuka. Standar kebersihan yang belum optimal menjadi masalah utama.

"Sering kali penyembelihan dan pengolahan dilakukan di tempat terbuka tanpa standar sanitasi yang baik sehingga risiko kontaminasi mikroba menjadi lebih tinggi," kata Baihaqi dalam keterangan tertulis IPB University, Rabu (27/5/2026).

Ia menyarankan panitia kurban memisahkan area kotor dan area bersih. Area penyembelihan dan pengulitan sebaiknya tidak bercampur dengan lokasi pemotongan daging maupun pengemasan.

Kesalahan lain adalah mencampur daging dan jeroan dalam satu kantong. Praktik ini sebaiknya dihindari karena dapat mempercepat kontaminasi.

"Daging sering kali dicampur dengan jeroan saat dikemas. Ini berisiko tinggi karena jeroan dapat mempercepat kontaminasi," ujar Baihaqi.

Ia menyarankan daging dan jeroan dikemas secara terpisah.

Setelah diterima, daging sebaiknya dipisahkan dari jeroan dan tulang, lalu dibersihkan sebelum disimpan di freezer jika belum dimasak.

>>> Mitos atau Fakta: Apakah Kurma Lebih Sehat dari Gula Pasir?

Faktor Lain yang Mempengaruhi Kualitas Daging

Kualitas daging kurban juga ditentukan sejak hewan masih hidup.

Kondisi ternak sebelum disembelih perlu diperhatikan, mulai dari transportasi, kecukupan pakan dan minum, hingga waktu istirahat yang memadai agar hewan tidak stres.

Stres pada ternak dapat memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Distribusi daging kurban di Indonesia umumnya tanpa sistem rantai dingin atau pendinginan.

Kondisi ini membuat panitia perlu bergerak cepat dalam proses pembagian. Tujuannya agar kualitas daging tetap terjaga dan tidak mudah rusak.

Baihaqi menambahkan, sejumlah lembaga kurban kini mulai mengembangkan inovasi dengan mengolah daging menjadi produk siap saji seperti rendang atau dendeng kaleng.

Namun, metode tersebut membutuhkan biaya serta peralatan yang lebih besar.

Ia menegaskan, penanganan daging kurban yang baik bukan hanya berkaitan dengan keamanan pangan. Hal ini juga bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan ibadah kurban.

>>> DANA Hadirkan Promo Top Up TikTok Coin Hemat Rp 5 Ribu

"Penanganan yang baik tidak hanya menjaga kualitas daging, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab," kata Baihaqi.