Harga Emas dan Perak Rontok usai Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga emas dunia terkoreksi tajam setelah pasar merespons meningkatnya peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Sentimen itu muncul di tengah memanasnya situasi geopolitik usai serangan militer terbaru AS ke Iran yang ikut mengerek harga minyak mentah.

Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, harga emas ditutup di level US$ 4.508,46 per troy ons. Angka tersebut turun 1,4% dibanding sehari sebelumnya yang justru sempat menguat dengan persentase serupa.

Pergerakan emas mulai sedikit stabil pada perdagangan Rabu pagi. Hingga pukul 06.22 WIB, harga emas berada di posisi US$ 4.506,42 per troy ons atau naik tipis 0,04%.

Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebut pelaku pasar obligasi mulai melihat peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve semakin besar.

"Pasar obligasi berpikir langkah suku bunga berikutnya dari Federal Reserve adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini," ujar Wyckoff.

Ekspektasi tersebut menguat setelah Kevin Warsh resmi menjabat Ketua Federal Reserve pada Jumat lalu. Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas biasanya kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.

Di sisi lain, harga minyak Brent melonjak lebih dari 4% akibat ketidakpastian hubungan AS dan Iran serta belum normalnya distribusi melalui Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi karena biaya produksi ikut terdorong naik dan dibebankan kepada konsumen.

Wyckoff menilai tekanan jual juga dipicu faktor teknikal. Menurut dia, pergerakan jangka pendek masih dikuasai kubu bearish sehingga aksi lepas posisi terus terjadi.