Indonesia sendiri relatif memiliki fondasi yang cukup kuat, di mana inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen.

Likuiditas dan permodalan perbankan juga masih kuat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap rendah.

Artinya, kenaikan BI-Rate tidak dilakukan dalam kondisi krisis, tetapi sebagai langkah antisipatif menjaga stabilitas sebelum tekanan menjadi lebih besar.

Namun demikian, tantangan ke depan tetap tidak ringan.

Selama The Fed belum benar-benar melonggarkan kebijakan moneternya dan konflik geopolitik global masih berlangsung, tekanan terhadap emerging markets akan tetap tinggi.

Dalam situasi seperti ini, kepercayaan pasar menjadi aset paling penting bagi bank sentral.

Langkah BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,25% sejatinya bukan sekadar upaya menjaga rupiah, melainkan pesan kepada investor global bahwa Indonesia tetap serius menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangannya di tengah dunia yang semakin tidak pasti.

Pada akhirnya, dalam ekonomi global yang penuh volatilitas, investor mungkin bisa mencari return lebih tinggi di berbagai negara.

>>> Matahari Pecahkan Rekor Pancarkan Sinyal Radio Selama 19 Hari

Namun hanya negara dengan kebijakan yang kredibel, institusi yang kuat, dan stabilitas yang terjaga yang akan tetap dipercaya pasar dalam jangka panjang.