Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, memberikan tanggapan atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut mentalitas 'bangsa kepiting'.

Menurut Sarmuji, pernyataan tersebut merupakan peringatan agar bangsa Indonesia tidak mengulangi kesalahan masa lalu, terutama kebiasaan saling menjatuhkan yang menghambat kemajuan.

>>> Komisi III DPR Bentuk Tim Pengawas Usai Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

Ia menilai pesan Prabowo perlu dimaknai sebagai ajakan untuk membangun budaya politik dan kehidupan berbangsa yang lebih sehat.

"Itu adalah wanti-wanti pemimpin agar kita tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti masa lalu," kata Sarmuji kepada wartawan, Sabtu (11/7/2026).

Ketua Fraksi Golkar DPR RI itu menambahkan bahwa setiap pergantian kepemimpinan adalah hal wajar dalam demokrasi.

Karena itu, siapa pun yang memimpin perlu diberikan kesempatan untuk menjalankan amanah tanpa terus-menerus dijatuhkan.

"Bangsa ini harus mampu mengelola ketidakpuasan. Ketidakpuasan tidak boleh menjadikan kita iri dan dengki.

Jangan inginnya memimpin terus sementara kekuasaan pasti dipergilirkan. Jangan sampai kita tidak sempat membangun karena saling menjatuhkan," ujarnya.

Meski demikian, Sarmuji menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap memiliki tempat dalam demokrasi.

Ia membedakan antara kritik yang bertujuan memperbaiki kebijakan dengan tindakan yang sekadar ingin menjatuhkan pihak lain.

"Kritik yang konstruktif tentu tidak masuk kategori yang dimaksud presiden. Bahkan kritik diperlukan agar pemerintah tetap berada pada rel yang seharusnya," ujarnya.

>>> Jannik Sinner Kalahkan Novak Djokovic, Lolos ke Final Wimbledon

Ia pun berharap seluruh elemen bangsa memberikan ruang kepada pemimpin yang telah dipilih rakyat untuk bekerja dan merealisasikan program-program yang telah dijanjikan.

"Berilah kesempatan siapapun yang memimpin untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik dan menunaikan setiap janji," imbuhnya.