Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, investor global mulai meninggalkan emerging markets dan beralih ke aset aman Amerika Serikat.

Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah membuat arus modal dunia bergerak defensif.

>>> Rupiah Terperosok ke Rp 17.838 Per Dolar AS, Defisit Transaksi Berjalan Melebar

Negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mempertahankan kepercayaan investor.

Kondisi ini menjadi latar penting keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026.

BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25%, dan Lending Facility menjadi 6%.

Kebijakan ini bukan sekadar langkah teknis moneter, melainkan strategi besar menjaga daya tarik aset domestik ketika pasar global bergerak ke safe haven assets.

Gelombang Risk-Off dan Tekanan terhadap Emerging Markets

Fenomena risk-off global saat ini tidak bisa dipandang ringan.

Materi BI menunjukkan bahwa arus modal dunia terus bergerak ke aset aman, terutama dolar AS dan US Treasury.

Indeks dolar AS (DXY) menguat, sementara yield US Treasury terus meningkat akibat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama.

Kondisi ini membuat emerging markets kehilangan sebagian daya tariknya karena selisih imbal hasil dengan aset AS makin menyempit.

Dalam perspektif teori portofolio internasional, perilaku investor global sangat dipengaruhi oleh hubungan antara return dan risk.

Ketika risiko global meningkat, investor cenderung melakukan flight to quality, yakni memindahkan dana dari aset berisiko di negara berkembang menuju instrumen yang dianggap aman dan likuid seperti US Treasury.

Fenomena ini menjelaskan mengapa gejolak geopolitik sering kali langsung memicu tekanan terhadap nilai tukar dan pasar obligasi emerging markets.