Aviliani Soroti Hambatan Investasi Swasta Akibat Komunikasi Pemerintah
Pelaku pasar dan pengusaha nasional masih ragu melakukan ekspansi karena ketidakpastian regulasi yang dipicu oleh persoalan komunikasi pemerintah.
Hal ini disampaikan Ekonom Perbanas, Aviliani, dalam acara The Forum di Hotel Mulia pada Selasa (26/5/2026).
>>> Rupiah Terperosok ke Rp 17.838 Per Dolar AS, Defisit Transaksi Berjalan Melebar
Pemerintah membutuhkan peran swasta yang mencakup 80 persen terhadap perekonomian nasional.
Keterlibatan swasta menjadi krusial mengingat target investasi nasional melonjak dari Rp 6.900 triliun pada 2025 menjadi Rp 7.500 triliun pada 2026.
Akselerasi investasi dan perdagangan global juga dibarengi peningkatan kontribusi BUMN atau Danantara dari 9 persen menjadi 15 persen.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi menunjukkan realisasi investasi triwulan I 2026 mencapai Rp 498,8 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan.
"Oleh karena itu, berilah iklim yang kondusif kepada swasta, karena itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi," ucap Aviliani.
Perbaikan iklim usaha dinilai krusial untuk mengakomodasi minat investasi asing di Indonesia saat ketidakpastian global terjadi.
Pembenahan sektor domestik diproyeksikan memberikan keuntungan besar bagi ekonomi nasional setelah konflik global mereda.
>>> Kanada Desak Investigasi Independen atas Perlakuan Israel terhadap Aktivis Flotilla Gaza
"Di tengah ada berbagai persoalan global, sebenarnya kalau kita bisa beresin domestik, nanti ketika perang itu sudah selesai, kita akan mendapatkan manfaat itu," terang Aviliani.
Kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini tecermin baik lewat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen dan inflasi 2,4 persen.
Namun, muncul kesenjangan berupa sikap gamang investor yang belum menaruh dana di pasar keuangan domestik.
"Jangan-jangan dia lari itu dalam arti dipindahkan ke negara lain, atau dia investasi di negara lain.
Ini yang mungkin menurut saya ada gap antara stabilitas makro dengan market confidence," ujar Aviliani.
Pemerintah disarankan memperbaiki cara komunikasi karena penerbitan regulasi baru tanpa sosialisasi jelas sering memicu kegaduhan. Dampak dari kurangnya kejelasan ini berujung pada penurunan daya tarik investasi di Indonesia.
"Yang tadinya mau investasi, dia tidak jadi investasi.
>>> Matahari Pecahkan Rekor Pancarkan Sinyal Radio Selama 19 Hari
Nah ini perlu dijaga, karena itu akan mempengaruhi nilai tukar, itu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi," pungkas Aviliani.
Update Terbaru
Norwegia vs Inggris: Bek Premier League Diuji Jinakkan Haaland
Sabtu / 11-07-2026, 07:57 WIB
VW ID. Unyx 09 Siap Meluncur dengan Tenaga Hampir 500 HP
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
Menlu Sugiono Temui Menlu Iran di Mashdad, Bahas Penguatan Kerja Sama
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
Daftar Mi Instan Terbaik Dunia 2026: Indomie Mi Goreng Peringkat 2
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
Rekor Unai Simon di Piala Dunia Berakhir Akibat Sundulan De Ketelaere
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
Polri Koordinasi dengan KPK dalam Penanganan Tiga Kasus Korupsi
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
3 HP Snapdragon 8s Gen 4 Terbaik: Performa Flagship Harga Terjangkau
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
6 Posisi Kompor Menurut Feng Shui yang Diyakini Bisa Memengaruhi Rezeki
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
Cara Menghilangkan Flek Hitam Bekas Jerawat Low Budget, Dokter Sarankan Pakai Bahan Alami Ini
Sabtu / 11-07-2026, 07:56 WIB
Kelompok Demokrat Alihkan Jutaan Dolar Iklan di Maine Sebelum Platner Mundur
Sabtu / 11-07-2026, 07:36 WIB
CM Punk Kembali ke SmackDown sebagai Juara WWE Tak Terbantahkan
Sabtu / 11-07-2026, 07:36 WIB
Cleveland Guardians Beradaptasi Setelah Cedera Pemain Kunci Guncang Persaingan AL Central
Sabtu / 11-07-2026, 07:35 WIB
Braxton Ashcraft Gantikan Paul Skenes di NL All-Star
Sabtu / 11-07-2026, 07:35 WIB
Cuaca Ekstrem Hambat Pemadaman Kebakaran Hutan di Colorado
Sabtu / 11-07-2026, 07:35 WIB







