Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026.

Mata uang Garuda merosot 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.796 per dolar AS.

>>> Slank Siap Kolaborasi dengan Margie Segers di Java Jazz Festival 2026

Sebelumnya, rupiah bertengger di posisi Rp17.744 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga ikut merosot. Angkanya turun ke Rp17.789 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.743 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan faktor utama pelemahan rupiah. Agresi terbaru Amerika Serikat terhadap aset militer Iran menjadi pemicu utama.

"AS telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan," ujar Ibrahim.

Meski mengklaim sebagai tindakan bela diri, aksi ini berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian.

Ketidakpastian global semakin tinggi setelah Iran menyangkal pernyataan Presiden AS Donald Trump. Trump sebelumnya mengklaim Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.

>>> RAN Remake Video Klip Pandangan Pertama untuk Rayakan 20 Tahun Berkarier

Padahal, sebelum serangan terbaru, kedua belah pihak telah menyepakati kerangka kerja untuk menghentikan konflik. Kesepakatan itu juga bertujuan membuka kembali Selat Hormuz.

Dampak pada Industri Nasional

Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran terhadap struktur biaya industri manufaktur. Harga bahan baku impor dan BBM industri non-subsidi berpotensi naik.

Ibrahim Assuaibi memperingatkan depresiasi yang terus-menerus akan mendongkrak biaya produksi. Sektor yang bergantung pada material impor paling terdampak.

Kekhawatiran lonjakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin nyata. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 15.425 pekerja terdampak PHK selama Januari hingga April 2026.

Tren negatif ini berjalan beriringan dengan kebijakan efisiensi ketat perusahaan. Beberapa korporasi bahkan menutup operasional akibat tekanan ongkos.

"Tekanan terhadap industri saat ini bersifat ganda," ujar Ibrahim. Pelemahan rupiah meningkatkan harga bahan baku impor, sementara konflik global memicu kenaikan biaya energi.

>>> BSI Salurkan 24.053 Ekor Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia

Jika situasi ini menetap, angka PHK diprediksi akan terus merangkak naik. Pergerakan kurs rupiah sempat menyentuh level terendah di posisi Rp19.845 per dolar AS.