Promotor Antisipasi Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Bisnis Konser Musik
Promotor musik di Indonesia mengantisipasi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar tidak langsung memicu lonjakan harga tiket konser.
Langkah ini diambil untuk menjaga ekosistem industri hiburan tanah air tetap bergerak positif.
>>> 6 Momen Paling Emosional di Arc Elbaf One Piece Pilihan Nakama
Pelemahan mata uang memberikan dampak nyata bagi pelaku industri. Namun, penyesuaian tarif pertunjukan tidak bisa dilakukan sepihak tanpa pertimbangan matang bersama jaringan manajemen internasional.
Co-Founder & COO PK Entertainment Group, Harry Sudarma, menjelaskan bahwa pihaknya merancang strategi agar beban finansial tidak langsung dialihkan ke penikmat musik.
"Pastinya impact-nya ada, tapi balik lagi kita selalu melihatnya sebagai tantangan bagaimana kita kemudian menavigasi situasi ini supaya tetap bisa mendatangkan artis, tetap bisa menyelenggarakan konser, dan tidak membebani konsumen dengan beban yang sebenarnya tidak perlu," kata Harry.
Penentuan harga tiket melibatkan proses panjang yang membutuhkan persetujuan berbagai pihak. Promotor lokal tidak memiliki otoritas penuh menetapkan angka penjualan kepada publik.
"Apapun yang kita announce atau putuskan, itu tidak pernah tanpa approval dari regional promoter, artist management, maupun artisnya sendiri," ujar Harry.
Manajemen artis luar negeri telah menetapkan standar nominal tiket per wilayah. Masalah keterjangkauan di domestik lebih dipengaruhi daya beli dan produk domestik bruto.
>>> Jung Woo Sung dan Wi Ha Joon Bintangi Film Sejarah Sal Saeng Bu
"Semua variabel itu menjadi bagian dari perhitungan.
Pada akhirnya, sebagai business unit tentu ada elemen profit oriented, tapi semua keputusan tetap melalui persetujuan seluruh pihak yang terlibat, termasuk manajemen artis," jelas Harry.
Potensi pasar sektor pertunjukan musik dalam negeri diperkirakan mencapai US$168 juta atau setara Rp2,8 triliun. Hal ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar bagi pelaku usaha.
"Dari sisi musik dan konser, hiburan live dan live music itu pendapatannya sangat besar secara global dan sama halnya dengan Indonesia.
Kita punya pasar yang potensinya sebesar US$168 juta," ujar Harry.
Laju kenaikan sektor hiburan di Indonesia mencatatkan performa di atas rata-rata global. Pertumbuhan bisnis ini konsisten di kisaran 10 persen secara tahunan dalam dua tahun terakhir.
>>> Jennifer Coppen Siapkan Pernikahan Dua Hari Bersama Justin Hubner
"Rata-rata globalnya ada di 2,5 sampai 5%. Jadi sebetulnya industri ini masih terus berkembang meski perekonomian secara umum melemah," tutup Harry.
Update Terbaru
5 Bahaya Hipertensi Tidak Terkontrol, Bisa Berakibat Fatal
Selasa / 14-07-2026, 13:43 WIB
Juan Soto Jamin Francisco Lindor Kembali ke All-Star Musim Depan
Selasa / 14-07-2026, 13:43 WIB
Big Cass Umumkan Kembali ke WWE pada 3 Agustus
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Jaksa KPK Kutip Lagu Broery Marantika untuk Ingatkan Pejabat Bea Cukai
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
IHSG Bangkit 0,61 Persen ke 6.074 pada Sesi I Siang Ini
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Bupati Gowa Walk Out dari Sidang Pansus Hak Angket DPRD
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Pramono Siapkan Tempat Kumpul Khusus Lansia di Jakarta
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Cavaliers Kalahkan Heat di Las Vegas Summer League
Selasa / 14-07-2026, 13:38 WIB
Lamine Yamal Tanggapi Sindiran Rajoy soal Timnas Prancis
Selasa / 14-07-2026, 13:38 WIB
Ikut Cardio Dance di Wellnest Vol.2, Gratis Cuma Butuh Semangat Sehat
Selasa / 14-07-2026, 13:38 WIB
Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Tak Sabar Bela Timnas Indonesia
Selasa / 14-07-2026, 13:36 WIB
Prediksi Superkomputer Opta: Inggris Bungkam Argentina dalam 90 Menit
Selasa / 14-07-2026, 13:35 WIB
Kasus Park Na Rae Memanas: Mantan Manajer Sewa Pengacara Baru
Selasa / 14-07-2026, 13:35 WIB
Berkas Lengkap, Yaqut Siap Buka-bukaan di Persidangan Kasus Haji
Selasa / 14-07-2026, 13:35 WIB







