Bukan berarti brand baru tidak bisa oke, tapi kepercayaan orang belum ada," ucap Ernest.

Selain reputasi, besarnya dana promosi yang dikucurkan untuk sebuah film juga berpengaruh besar. Ernest mencontohkan strategi film Agak Laen 2 yang diproduksi oleh Imajinari, rumah produksi miliknya.

"Kita siapin kegiatan promo untuk datang ke podcast-podcast itu lebih dari 50 podcast. Kebayang nggak, lu?

Podcast dan televisi dan program-program lah, ya. Itu lebih dari 50.

>>> Jokowi Terima Tawaran Panglima Jilah Bermain Film Dayak Masa Lampau

Dan itu butuh dana operasional, itu butuh konsumsi, butuh segala macam lah," tambah Ernest.

Namun, ia mengingatkan ada kalanya film dengan anggaran promosi kecil mampu menjadi buah bibir hingga meledak di pasaran.

Kasus seperti ini tetap ada, meski cukup jarang sehingga dikategorikan sebagai anomali.

Hukum Kapitalisme Pasar

Ernest menegaskan bahwa sistem plot layar ini bukan dipicu oleh praktik suap-menyuap atau kecurangan. Menurutnya, hal ini murni bentuk dari kapitalisme yang berjalan adil berdasarkan hukum pasar.

"Menurut gue sih bukan curang ya, tapi memang bioskop cenderung lebih percaya pada nama besar dari segi PH (rumah produksi) dan produser," tuturnya.

Meski menilai sistem ini adil secara bisnis, Ernest merasa kondisi saat ini belum ideal.

Sistem yang ideal menurutnya adalah ketika film dari label independen bisa mendapatkan kesempatan yang sama besar, yaitu saat bioskop berfokus pada kualitas film, bukan sekadar nama besar rumah produksi atau besarnya dana promosi.

"Kita masih berjuang ke arah sana. Sebagai produser, gimana caranya mengisi bioskop dengan lebih banyak film-film yang bagus.

Bukan cuma film-film yang laku, tapi yang bagus, bagus menurut kami. Kami masing-masing produser dan sutradara-nya tentunya," ungkap Ernest.