Jakarta: Sineas Ernest Prakasa memberikan tanggapan mengenai dugaan monopoli layar bioskop yang mencuat beberapa waktu lalu.

Melalui unggahan di Instagram, ia menilai banyak orang belum memahami realitas industri perfilman Indonesia.

>>> Seungmin Stray Kids Alami Cedera Retak Tulang Pergelangan Kaki, Batal Tampil di Governors Ball

"Nggak heran juga kalau nggak paham, karena kan ini bukan pengetahuan umum ya.

Ini sebuah skema yang terjadi di dalam sebuah industri yang sangat spesifik," kata Ernest dalam video yang dibagikannya, dikutip Senin, 25 Mei 2026.

Analogi Bioskop Seperti Warung

Ernest mengibaratkan bioskop seperti warung dengan kapasitas rak yang sangat terbatas. Pemilihan produk yang disajikan harus yang berpotensi besar dibeli konsumen.

"Jadi dengan display lu yang terbatas itu, lu harus pilih benar-benar barang-barang yang memang orang akan beli.

Karena kalau nggak, dia akan makan tempat lu yang sangat terbatas itu," jelas Ernest.

Biaya operasional bioskop sangat mahal, mulai dari sewa mal, listrik, karyawan, hingga perawatan.

Karena itu, pemilik bioskop harus memilih film yang paling berpeluang laku demi menjual tiket sebanyak mungkin.

"Seperti analogi warung tadi, bioskop tuh cuma punya satu tujuan: gimana caranya layar-layar yang terbatas ini menghasilkan sebanyak mungkin tiket.

Karena mahal, Bro. Operasionalnya mahal," ujar Ernest.

"Nah, film mana di antara ratusan film ini yang berpeluang ke arah sana? Sebenarnya sesederhana itu," tambahnya.

Reputasi dan Dana Promosi

Ernest mengungkapkan dua alasan utama mengapa rumah produksi besar atau sineas ternama lebih sering mendapatkan slot layar. Pertama adalah reputasi yang membangun kepercayaan masyarakat.

"Ketika ngelihat brand-nya, orang udah tahu, 'Oh, iya, gue tahu nih produk-produk mereka sebelumnya, dan gue suka, dan gue percaya kualitasnya pasti oke.'