Sutradara muda Berthold Wahjudi mencatat prestasi di Festival Film Cannes 2026.

Film pendek karyanya, Vaterland or A Bule Named Yanto, meraih CANAL+ Award dalam kategori La Semaine de la Critique.

>>> Harga BBM Pertamina dan Swasta 26 Mei 2026 Belum Alami Perubahan

Penghargaan ini diterima pada malam penutupan festival. Pencapaian tersebut menjadi sejarah baru bagi perfilman Indonesia di kancah internasional.

Sinopsis Film

Film berdurasi 118 menit ini menggabungkan drama keluarga, komedi satire, dan kritik sosial. Sinematografinya yang memukau turut memperkuat narasi.

Judul Vaterland berarti tanah air dalam bahasa Jerman, sementara A Bule Named Yanto merujuk pada seorang bule bernama Yanto.

Cerita berfokus pada Yanto, pemuda berdarah campuran Jerman-Indonesia.

Yanto datang ke Indonesia untuk mengunjungi adik perempuannya. Pertemuan itu menjadi refleksi pencarian identitas diri, menghadirkan konflik antara rasa memiliki dan keterasingan akibat dua budaya.

>>> Persaingan Smartphone Dua Jutaan Makin Sengit dengan Layar Cepat dan Baterai Besar

Inspirasi dan Produksi

Ide cerita berasal dari pengalaman pribadi Berthold. Salah satu inspirasinya adalah foto dirinya dikelilingi anak-anak Indonesia yang berebut foto dengan seorang bule.

Film ini mengeksplorasi tema identitas campuran dan dinamika saudara kandung. Penonton diajak merasakan emosi menjadi orang asing di tanah leluhur sendiri.

Produksi melibatkan kolaborasi lintas negara: madfilms (Jerman), Aftersun Creative (Indonesia), dan dukungan Pal 8 Pictures. Tokoh utama diperankan oleh Aggai Saibuma dan Sarah Muckarin Röser.

Latar Yogyakarta dan Relevansi Diaspora

Film mengangkat lokalitas Indonesia, khususnya Yogyakarta, ke panggung global. Keberhasilan di Cannes menegaskan kualitas sinema tanah air.

>>> Rupiah Melemah ke Rp17.768 per Dolar AS pada 26 Mei 2026

Narasi film dinilai relevan dengan realitas sosial, terutama isu identitas yang dihadapi diaspora Indonesia di luar negeri.