Perusahaan penyedia transportasi dan teknologi nasional, Kalista, mengungkapkan enam tantangan utama dalam adopsi kendaraan komersial listrik di Indonesia.

Hal ini disampaikan Direktur Utama Kalista Group Albert Aulia Ilyas dalam diskusi bersama media pada Rabu (20/5/2026).

>>> iCar V23 Resmi Meluncur, Tantang Chery J6 di Segmen SUV Listrik Boxy

Enam Tantangan Utama

Albert menjelaskan bahwa tantangan pertama adalah spesifikasi produk atau flip. Kedua, teknologi yang digunakan.

Ketiga, layanan purnajual dan perawatan.

Keempat, infrastruktur pendukung. Kelima, jaminan garansi.

Keenam, modal awal atau initial capex yang besar.

Pemetaan ini dilakukan untuk merumuskan solusi menyeluruh dari hulu ke hilir. Tujuannya agar peralihan armada angkutan barang dan penumpang berjalan lebih cepat.

>>> 16 Mobil dengan Mesin di Bawah 1.400 cc, Irit dan Pajak Ringan

Optimisme Transisi

Meski ada tantangan, Kalista tetap optimistis. Penetrasi pasar kendaraan listrik komersial sempat di bawah 1 persen empat tahun lalu.

Namun, inovasi terbaru, variasi produk yang semakin banyak, dan harga kompetitif membuka peluang.

"Sebagai pelaku bisnis, mungkin ini sudah saat kita melihat kendaraan listrik menjadi salah satu opsi untuk bisnis berkelanjutan," ujar Albert.

Ia menambahkan bahwa dulu kendaraan listrik dianggap belum teruji dan lebih mahal, tetapi kini mulai berubah.

>>> Tony Modifikasi Toyota HiAce 2018 Bertema Pac-Man, Habiskan Rp 100 Juta

Solusi Fleet-as-a-Service

Untuk meringankan beban finansial operator, Kalista menawarkan skema penyewaan armada melalui model Fleet-as-a-Service (FaaS). Skema ini diharapkan mempercepat transisi ke kendaraan listrik komersial.