Satelit alami Bumi, Bulan, dilaporkan secara perlahan bergerak menjauh ke ruang angkasa yang lebih dalam.

Berdasarkan pengamatan para ilmuwan, tetangga kosmik kita ini bergeser dengan kecepatan 3,8 cm per tahun.

>>> The Mandalorian and Grogu Tuai Review Pedas, Tertolong Baby Yoda

Pergeseran tersebut terjadi karena adanya pertukaran energi yang terus berlangsung antara kedua objek kosmik ini.

Meski demikian, perubahan kecil itu sama sekali tidak kasat mata saat manusia memandang langit malam.

Mekanisme Pergeseran Bulan

Gaya gravitasi Bulan menarik Bumi hingga memicu tonjolan pada air laut atau fenomena pasang-surut.

Karena rotasi Bumi berlangsung lebih cepat daripada orbit Bulan, tonjolan air laut itu terseret sedikit di depan posisi Bulan.

Kondisi ini memberikan tarikan gravitasi ke depan yang menambah energi rotasi pada Bulan. Dampaknya, jalur orbit satelit alami tersebut secara otomatis menjadi semakin luas.

Bukti geologis purba membantu para peneliti memetakan seberapa dekat jarak Bulan dan seberapa cepat planet kita berputar di masa lalu.

Sebuah studi dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menganalisis sedimen laut berusia 1,4 miliar tahun dan menemukan bahwa rotasi Bumi di masa purba jauh lebih cepat.

Selain itu, penemuan fosil kerang bivalve rudist dari zaman Kapur Akhir sekitar 70 juta tahun lalu turut menjadi kalender biologis yang merekam pertumbuhan harian.

Hasil analisis kimia mengindikasikan bahwa pada akhir zaman dinosaurus, Bumi berotasi sebanyak 372 kali dalam setahun, berbeda dengan masa sekarang yang berjumlah 365 hari.

>>> Kartu Grafis China Lisuan LX 7G100 Mulai Diuji Publik

Hal tersebut membuat durasi satu hari pada zaman purba itu hanya berlangsung selama 23,5 jam.