“Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta.

Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi,” imbuhnya.

Ketajaman dalam dua laga awal membuat penyerang muda berusia 22 tahun itu langsung dipromosikan ke skuad utama senior.

“Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib.

Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib.

Antara percaya enggak percaya,” kenangnya.

Kesempatan emas membela tim impian masa kecilnya dibayar tuntas lewat sumbangan delapan gol pada musim perdana Perserikatan.

“Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir, 'Benar nih'.

Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu,” ucapnya.

Kegemilangan berlanjut di ajang Piala Utama 1992, di mana ia sukses menyabet gelar pencetak gol terbanyak setelah menembus final melawan Pelita Jaya.

“Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan.

Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan,” ujarnya.

Gelar top skor tersebut mendatangkan hadiah uang tunai Rp15 juta yang kemudian ia bagi bersama rekan setim.

“Dari 1992 ke 1993, saya top skornya. Saingan saya waktu kalau enggak salah Alexander Saununu.

Dapat hadiah uang Rp15 juta. Buat saya sebagian, sebagian lagi saya bagi-bagi sama teman-teman,” paparnya.

Catatan sejarah mencatat Sutiono juga kerap menjadi penentu dalam laga el clasico Indonesia, seperti gol telat menit ke-89 yang membungkam Persija Jakarta 2-1 di Stadion Siliwangi pada 21 Mei 1995.

Setelah gantung sepatu pada tahun 2000 dan menyelesaikan masa bakti sebagai PNS, sang legenda kini kembali ke lapangan hijau.

“Saya sekarang sudah pensiun nih. Dulu PNS.

Begitu pensiun main bola, kita terus kerja jadi PNS. Nah, sekarang sudah pensiun.

Saya kembali lagi ke lapangan, jadi pelatih. Jiwa saya memang di bola,” tutup Sutiono.

>>> Madura United Wajib Menang Lawan PSM Makassar demi Hindari Degradasi

Sepanjang kariernya bersama Persib sejak 1988 hingga 2000, Sutiono mengoleksi tiga gelar juara kasta tertinggi serta penghargaan Pemain Terbaik musim 1993/1994 dan Top Skor Liga Indonesia 1994/1995.