Persib Bandung berpeluang mencetak sejarah tiga kali juara beruntun saat menghadapi Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (23/5/2026).

Momen krusial ini memicu ingatan legenda Persib, Sutiono Lamso, terhadap masa kejayaan klub saat pertama kali merengkuh trofi Liga Indonesia edisi perdana musim 1994/1995.

>>> Fabio Di Giannantonio Kagumi Kemampuan Analisis Lintasan Valentino Rossi

Gol Tunggal di Final 1995

Sutiono mengenang atmosfer luar biasa di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 30 Juli 1995.

Gol tunggalnya di menit ke-79 membawa Persib menumbangkan Petrokimia Putra yang bertabur pemain asing.

“Sangat spesial sekali. Karena Perserikatan dan Galatama disatukan jadinya Liga Indonesia.

Yang pertama itu, ya tahun 1994/1995,” kata Sutiono dalam kanal YouTube Bicara Bola.

Antusiasme Bobotoh sangat tinggi. Sang penyerang diarak dan dicari oleh pendukung yang memenuhi area stadion sebelum laga dimulai.

“Begitu pulang, saya juga diarak. Sebelum datang ke stadion juga saya sudah dicari-cari sama penonton.

Mereka bilang, 'Mana Sutiono, mana Sutiono'. Alhamdulillah, saya bisa bikin gol ya,” imbuhnya.

Keberhasilan tersebut menjadi monumental karena skuad Maung Bandung kala itu murni mengandalkan talenta lokal tanpa legiun asing.

“Ya, sangat meriah sekali waktu itu. Jadi tonggak sejarah Persib, kita jadi bintang satu.

Itu awalnya bintang satu di jersey Persib. Tanpa pemain asing.

Pemain lokal semua. Tapi musuhnya pemain asing,” ujar Sutiono.

Dominasi pendukung Persib di tribun Stadion Gelora Bung Karno yang mencapai 90 persen menjadi suntikan motivasi.

“Pokoknya saya sebagai pemain depan, apalagi karena Bobotoh yang sangat besar sekali ya. Mayoritas 90 persen itu, Stadion Gelora Bung Karno sudah dikuasai oleh Persib,” tukasnya.