'Ini saya punya pemain asing mungkin bisa ngebantu saya'. Nah, terus, sementara kita kan enggak ada pemain asing.

Apa yang harus kita lakukan?” kata Sutiono.

Strategi kolektif terbukti ampuh meredam tim kaya lawan yang diperkuat nama besar sepak bola dunia.

>>> Vidio Siarkan Langsung Turnamen Tinju Mahasiswa UBL Nasional Season 1

“Otomatis, kita jelas, kebugaran itu harus kita jaga. Terus, yang kedua, kekompakan.

Jadi dengan kekompakan dan kebugaran yang bagus, kita bisa mengatasi tim-tim lawan. Misalnya, ada pemain asing nih.

Kita misalnya ketemu sama Pelita Jaya, waktu itu ada Maboang Kessack, Roger Milla. Pemain dunia itu kan,” imbuhnya.

Kondisi serupa terjadi saat menghadapi Bandung Raya yang diperkuat Olinga Atangana dan Dejan Gluscevic.

“Di Bandung Raya ada Olinga Atangana, ada Dejan Gluscevic. Itu di kandang kita main lawan Dejan.

Tapi, kita ya enggak kalah walaupun Persib pemain lokal semua. Ya itu tadi, karena kita punya daya tahannya kuat ditambah kekompakan,” tandasnya.

Pemahaman karakter antarpemain sudah terbentuk mendalam karena mereka telah bermain bersama dalam kurun waktu panjang.

“Karena tim ini kan dari era Perserikatan, terus bertahan sampai ke Liga. Jadi kita sudah lama bergabungnya.

Satu sama lainnya sudah saling tahu,” ucap Sutiono.

Perjalanan Karier Sutiono

Karier Sutiono di Bandung bermula pada akhir tahun 1988 ketika merantau dari Purwokerto dan bergabung dengan Produta, klub internal Persib.

“Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwokerto.

Terus masuk klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh.

Ada kompetisi internal Persib,” katanya.

Kemampuan mencetak gol impresif di kompetisi internal langsung menarik perhatian pelatih Persib saat itu, Nandar Iskandar.