>>> Nvidia Targetkan Diversifikasi Pasar di Tengah Skeptisisme Investor Global

Perusahaan kini menuntut output yang sama atau lebih tinggi dari tim yang lebih kecil dengan bantuan AI.

Data industri menunjukkan sekitar 20 persen PHK di sektor teknologi pada 2026 dikaitkan dengan AI. Namun, analis menilai perubahan ini lebih berupa reorganisasi ketimbang eliminasi pekerjaan sepenuhnya.

Analis RationalFX, Alan Cohen, mengatakan sektor teknologi sedang "dibentuk ulang" oleh AI. "Sektor teknologi sedang direorganisasi secara fundamental di sekitar workflow yang lebih efisien berbasis teknologi," katanya.

Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, justru berpandangan AI dalam jangka panjang bisa menciptakan lebih banyak pekerjaan.

Ia mengacu pada fenomena "Jevons Paradox", di mana peningkatan efisiensi mendorong permintaan dan membuka lapangan kerja baru.

Adaptasi Jadi Kunci

Para ahli menilai pekerja yang paling rentan bukan mereka yang pekerjaannya bisa diotomatisasi, melainkan yang tidak beradaptasi memanfaatkan AI.

Dampak terbesar AI saat ini adalah pada produktivitas, bukan penggantian total tenaga kerja.

Transisi ini tetap akan terasa menyakitkan sebelum manfaatnya benar-benar terlihat luas.

Gelombang PHK di era AI merupakan hasil kombinasi berbagai faktor: koreksi pasca-pandemi, tekanan efisiensi, eksperimen teknologi, hingga perubahan strategi bisnis.

Untuk melihat ke mana arah industri bergerak, indikator yang lebih relevan bukan siapa yang di-PHK, melainkan siapa yang direkrut berikutnya.

>>> Jadwal Film dan Sepakbola 22 Mei 2026

Jika perusahaan mulai aktif merekrut talenta AI, maka transformasi benar-benar terjadi. Jika tidak, AI bisa jadi hanya label baru untuk dinamika lama.