Dia bahkan masih berada di luar stadion sebelum laga untuk membagikan tiket.

"I was still outside the ground getting tickets for friends," kata Morley. "Orang-orang bertanya apakah saya benar-benar akan bermain.

Saya bilang saya hanya butuh 10 menit untuk berganti pakaian."

Di balik sikap santai tersebut, skuad Aston Villa menyimpan keyakinan besar untuk menang.

Kapten tim, Dennis Mortimer, merasa trofi juara sudah ditakdirkan untuk mereka karena tim Inggris lain seperti Liverpool dan Nottingham Forest bisa meraihnya.

"Saya berpikir, Liverpool dan Nottingham Forest bisa memenanginya. Jadi kenapa bukan Aston Villa?"

ujar Mortimer.

Pahlawan Tak Terduga Nigel Spink

Tantangan besar sempat menghampiri Aston Villa saat pertandingan baru berjalan sembilan menit akibat cedera leher yang dialami kiper utama Jimmy Rimmer.

Situasi ini memaksa kiper cadangan berusia 23 tahun, Nigel Spink, masuk ke lapangan.

Spink yang baru bermain satu kali di tim utama justru tampil luar biasa di bawah mistar gawang.

Dia berhasil mematahkan berbagai peluang emas dari deretan bintang Bayern Munchen seperti Karl-Heinz Rummenigge, Dieter Hoeness, dan Paul Breitner.

"Saya sama sekali tidak tahu Jimmy bermasalah," kata Spink. "Saya benar-benar santai sebelum pertandingan karena saya tidak pernah berpikir akan bermain."

Ketika Nigel Spink sempat tidak berkutik menghalau sundulan Klaus Augenthaler, bek Kenny Swain muncul sebagai penyelamat dengan menyapu bola di garis gawang.

Ken McNaught membeberkan adanya perubahan taktik penting untuk meredam lini serang tim Jerman tersebut.

"Kami sadar Dieter Hoeness terlalu dominan di udara dan Rummenigge terlalu cepat," kata McNaught. "Jadi kami mengubah sistem menjadi penjagaan satu lawan satu dan itu berhasil."

Perayaan dan Warisan

Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, para pemain langsung merayakan kemenangan bersama suporter.

Dennis Mortimer mengenang fokus utamanya saat itu hanya untuk memegang dan mengangkat trofi Piala Champions Eropa.

"Saya hanya memikirkan bagaimana caranya memegang trofi itu," kata Mortimer. "Saat menerima trofi, saya tidak ingin melepaskannya.

Saya memastikan sebanyak mungkin foto diambil bersama trofi tersebut."

Kejayaan di Rotterdam pada 1982 menjadi fundamen identitas besar bagi Aston Villa di kancah sepak bola Eropa.

>>> FC Volendam Kalahkan Willem II 2-1 di Leg Pertama Playoff Eredivisie

Kini, cerita manis tersebut kembali dirasakan oleh generasi baru pendukung Aston Villa setelah Unai Emery membawa klub meraih kesuksesan di Liga Europa 2025/2026.