China juga mengukuhkan diri sebagai pusat manufaktur utama. Dari total produksi global yang mendekati 22 juta unit tahun lalu, sekitar tiga perempatnya dirakit di China.

Kapasitas manufaktur yang masif mendorong lonjakan ekspor secara signifikan.

Sepanjang 2025, pengiriman mobil listrik dari China ke luar negeri meningkat dua kali lipat hingga menembus 2,5 juta unit.

Penyebaran produk China semakin agresif di pasar negara berkembang, termasuk Asia Tenggara.

IEA mencatat di luar tiga pasar utama (China, Eropa, AS), porsi mobil listrik asal China mencapai 55 persen, melonjak drastis dari di bawah 5 persen lima tahun lalu.

Kekuatan China juga didukung penguasaan rantai pasok komponen vital.

Negara tersebut mengontrol lebih dari 80 persen produksi sel baterai global pada 2025, termasuk penyediaan material inti baterai.

Kondisi ini membuat produsen China semakin masif berekspansi ke pasar internasional, termasuk Indonesia. Merek seperti BYD, Wuling Motors, dan Chery mulai mewarnai pasar domestik.

>>> Aptrindo Usul Peremajaan Truk untuk Dukung Kebijakan Zero ODOL

"Ke depannya, penurunan harga baterai dan potensi respons kebijakan terhadap krisis energi global akan memberikan momentum lebih lanjut di pasar kendaraan listrik," pungkas Fatih Birol.