Tepat pukul 16.58, database milik Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dihancurkan dengan perintah: "DROP DATABASE dhsproddb."

Satu menit kemudian, pada pukul 16.59, Muneeb mulai mencari cara menghapus jejak digital menggunakan chatbot AI.

Ia bertanya, "Bagaimana cara menghapus system logs dari SQL server setelah menghapus database?" dan "Bagaimana cara menghapus semua event dan application logs dari Microsoft Windows Server 2012?"

Dalam waktu kurang lebih satu jam, Muneeb berhasil menghapus sekitar 96 database berisi dokumen Freedom of Information Act dan berkas investigasi federal.

Ia juga memindahkan 1.805 file EEOC ke USB drive dan mencuri data pajak federal milik 450 orang.

>>> Juri California Tolak Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI

Percakapan dan Rencana Pemerasan

Selama aksi sabotase, kedua saudara ini terus berkomunikasi. Sohaib melihat daftar database yang dihapus dan berkata, "Aku lihat kamu lagi membersihkan backup database mereka."

Ia menambahkan, "Oke, kalau kamu punya plausible deniability yang bagus."

Muneeb menanggapi dengan santai, "Ah, mereka bisa pulihkan backup kemarin." Sohaib menjawab, "Iya, mereka bisa."

Sohaib kemudian mengusulkan untuk menghapus filesystem secara total, yang disetujui Muneeb. Ia juga menyarankan pembuatan "kill script" dan rencana memeras Opexus, tetapi Muneeb menolak.

"Tidak, jangan lakukan itu. Itu bukti kalau kita bersalah," katanya.

Ketika Sohaib khawatir tentang penggeledahan, Muneeb meyakinkan, "Aku bakal bersihkan semua ini."

Setelah menghapus database dan log sistem, mereka menginstal ulang sistem operasi laptop kantor dengan bantuan pihak ketiga. Tiga pekan kemudian, aparat keamanan federal menggerebek rumah mereka di Alexandria.

Aparat menyita berbagai perangkat teknologi dan tujuh pucuk senjata api ilegal, karena Sohaib dilarang memegang senjata akibat status kriminalnya.