Namun, mereka juga ingin terus mengembangkan keterampilan baru yang menggabungkan kemampuan manusia dan teknologi.

Di kalangan Gen Z, keterampilan yang paling ingin dikembangkan adalah kemampuan berbicara di depan umum sebesar 41 persen, disusul kepemimpinan, literasi AI, kemampuan komunikasi, dan kreativitas yang masing-masing mencapai 37 persen.

Sementara itu, di kelompok milenial, kemampuan yang paling ingin dikembangkan adalah literasi AI sebesar 42 persen.

Setelah itu, kemampuan berbicara di depan umum sebesar 36 persen, literasi digital dan teknologi informasi sebesar 35 persen, kemampuan komunikasi sebesar 35 persen, serta kepemimpinan sebesar 34 persen.

Chief People Officer Eightfold AI Meghna Punhani mengatakan keterampilan yang paling penting di masa depan adalah rasa ingin tahu dan kemampuan untuk terus belajar.

“Keterampilan yang paling penting untuk masa depan adalah rasa ingin tahu, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kelincahan untuk terus belajar.

Ini tentang dorongan untuk memecahkan masalah, menghubungkan berbagai hal, dan berkolaborasi secara efektif,” ujar Punhani.

Ia menambahkan, kekuatan kognitif, kecerdasan emosional, rasa ingin tahu, dan pola pikir pembelajar berkelanjutan akan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan pekerja di masa depan.

Perusahaan Dinilai Belum Siap

Meski penggunaan AI meningkat pesat di tingkat individu, Deloitte menemukan banyak pekerja muda merasa perusahaan mereka belum siap menghadapi perubahan besar akibat AI.

>>> Survei Deloitte: Penggunaan AI di Kalangan Milenial dan Gen Z Melonjak Tajam

Sekitar 30 persen Gen Z dan 31 persen milenial mengatakan organisasi tempat mereka bekerja belum siap menghadapi perubahan yang dibawa AI.

Angka ini meningkat dibanding survei tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 persen.