Sementara pada Gen Z, hambatan lain adalah keterbatasan kemampuan kreatif AI yang tersedia di tempat kerja.

Menurut Deloitte, kondisi ini menunjukkan pekerja muda sebenarnya bergerak lebih cepat dibanding organisasi tempat mereka bekerja.

“Dalam banyak kasus, adaptasi terjadi meski infrastruktur organisasi belum mendukung, bukan karena organisasi sudah siap,” tulis Deloitte.

AI Membuka Peluang Baru

Di tengah kekhawatiran soal otomatisasi pekerjaan, banyak Gen Z dan milenial justru melihat AI sebagai peluang baru, terutama bagi pekerja level awal.

Sebanyak 26 persen Gen Z dan 28 persen milenial menilai AI membuat pekerja level awal bisa memperoleh pengalaman lebih cepat.

Lalu, 25 persen dari kedua generasi mengatakan AI memungkinkan pekerja pemula fokus pada pekerjaan bernilai lebih tinggi dan mempercepat pertumbuhan karier mereka.

Selain itu, 23 persen Gen Z dan milenial menyebut AI mendorong lahirnya jenis pekerjaan baru di level awal, seperti operasi AI dan pengujian model AI.

Sementara 22 persen Gen Z dan 20 persen milenial mengatakan pekerja level awal yang memiliki kemampuan AI kini memperoleh kompensasi lebih tinggi.

Namun, sebagian responden tetap melihat risiko berkurangnya perekrutan pekerja pemula.

Sekitar 20 persen Gen Z dan 17 persen milenial mengatakan perusahaan mulai mengurangi perekrutan entry level karena AI.

Laporan Deloitte menunjukkan AI kini tidak hanya dipandang sebagai alat produktivitas, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi bertahan dan berkembang bagi generasi muda di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.

Survei Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan terhadap lebih dari 22.500 responden dari 44 negara di berbagai kawasan dunia.