Deloitte juga menemukan adanya kesenjangan antara kemampuan individu dan kesiapan organisasi.

Sebanyak 68 persen Gen Z dan 66 persen milenial merasa percaya diri menggunakan AI. Namun, hanya 60 persen yang percaya pemimpin senior di perusahaan mereka memiliki kemampuan serupa.

Global AI Leader Deloitte Global Nitin Mittal mengatakan nilai AI baru benar-benar muncul ketika perusahaan mendesain ulang pekerjaan dan alur kerja dengan AI sebagai inti.

"AI menciptakan nilai ketika para pemimpin mendesain ulang peran dan membayangkan kembali alur kerja dengan AI sebagai intinya," kata Mittal.

Ia menambahkan, manajer memiliki peran penting untuk membantu tim memahami cara kerja baru yang mengintegrasikan AI, bukan sekadar menambahkan AI ke proses lama.

Hambatan Pelatihan dan Kepercayaan

Selain kesiapan organisasi, persoalan lain yang muncul adalah soal pelatihan dan kepercayaan terhadap AI.

Lebih dari sepertiga responden mengatakan mereka tidak sepenuhnya percaya AI mampu menghasilkan keluaran yang akurat dan bebas bias.

>>> Google Berhasil Gagalkan Serangan Siber Zero Day Berbasis Kecerdasan Buatan

Angkanya mencapai 36 persen pada Gen Z dan 34 persen pada milenial.

Persentase yang hampir sama juga menyebut perusahaan belum memberikan pelatihan AI yang memadai, yakni 36 persen pada Gen Z dan 38 persen pada milenial.

Hambatan utama penggunaan AI di tempat kerja masih berkisar pada kurangnya pengetahuan dan pengalaman.

Pada kelompok milenial, hambatan lain yang banyak disebut adalah kurangnya pelatihan efektif dan pembatasan penggunaan karena kepatuhan (compliance requirements).

Sementara pada Gen Z, hambatan lain adalah keterbatasan kemampuan kreatif AI yang tersedia di tempat kerja.

Menurut Deloitte, kondisi ini menunjukkan pekerja muda sebenarnya bergerak lebih cepat dibanding organisasi tempat mereka bekerja.