Sebanyak 83 persen Gen Z dan 82 persen milenial mengatakan AI berdampak positif bagi kehidupan personal mereka.

Sementara itu, 80 persen Gen Z dan 79 persen milenial menyebut AI berdampak positif pada kehidupan kerja.

Dalam konteks pekerjaan, 68 persen Gen Z dan 69 persen milenial merasa AI meningkatkan kualitas hasil kerja.

Selain itu, 69 persen responden dari kedua generasi mengatakan AI membantu menghemat waktu dan memperbaiki keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).

Jenis penggunaan AI pun semakin luas.

Sebanyak 50 persen Gen Z dan 53 persen milenial menggunakan AI untuk analisis data, termasuk visualisasi data dan peramalan.

Kemudian, 42 persen Gen Z dan 46 persen milenial memakai AI untuk pembuatan konten seperti artikel, unggahan media sosial, hingga naskah video.

Di bidang desain dan kreativitas, AI digunakan oleh 42 persen Gen Z dan 43 persen milenial.

Adapun 37 persen Gen Z dan 39 persen milenial menggunakan AI untuk manajemen proyek, sedangkan 38 persen dari kedua generasi memanfaatkan AI untuk kebutuhan strategi bisnis dan penilaian risiko.

Kesiapan Perusahaan Masih Tertinggal

Meski penggunaan AI meningkat pesat di tingkat individu, Deloitte menemukan banyak pekerja muda merasa perusahaan mereka belum siap.

Sekitar 30 persen Gen Z dan 31 persen milenial mengatakan organisasi tempat mereka bekerja belum siap menghadapi perubahan yang dibawa AI.

Angka ini meningkat dibanding survei tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 persen.

Selain itu, 62 persen Gen Z dan 60 persen milenial menilai perangkat AI di tempat kerja mereka masih perlu ditingkatkan.

Bahkan, 33 persen Gen Z dan 32 persen milenial menyebut perangkat AI di kantor hanya "cukup" atau bahkan tidak memadai.