Para peretas dilaporkan mulai menyuapi model AI dengan seluruh repositori data kerentanan keamanan secara utuh.

Mereka juga menggunakan alat bantu seperti OpenClaw di dalam lingkungan simulasi yang terkontrol.

Langkah ini dilakukan guna menyempurnakan muatan siber buatan AI tersebut agar serangannya makin jitu sebelum benar-benar diluncurkan ke target nyata.

AI Juga Menjadi Target Serangan

Penemuan Google ini seakan menjawab kekhawatiran industri teknologi dalam beberapa minggu terakhir terkait bahaya model AI yang difokuskan pada keamanan siber, seperti AI Mythos dari Anthropic.

Sebelumnya, sebuah kerentanan pada sistem operasi Linux juga berhasil ditemukan dengan bantuan AI.

Menariknya, tren ancaman siber saat ini memiliki dua arah.

Selain digunakan sebagai senjata pencari celah, ekosistem AI itu sendiri kini juga mulai menjadi sasaran empuk serangan peretas.

"GTIG mengamati bahwa musuh makin sering menargetkan komponen terintegrasi yang memberikan kegunaan pada sistem AI, seperti keterampilan otonom dan konektor data pihak ketiga," tutup laporan Google tersebut.

Laporan GTIG juga mengungkapkan bahwa para peretas kini semakin mahir memanfaatkan AI untuk mencari celah keamanan.

>>> Waspada Wangiri Fraud, Modus Penipuan Telepon Sekali Dering yang Kuras Pulsa

Salah satu metode yang marak digunakan adalah taktik persona-driven jailbreaking, di mana peretas memanipulasi AI untuk berpura-pura menjadi pakar keamanan siber tingkat tinggi.