Semburan-semburan itu berasal dari jarak 11,74 juta tahun cahaya hingga 9,1 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Salah satu semburan, FRB 20230521B, memegang rekor sebagai FRB paling jauh yang pernah terdeteksi.

Meskipun observatorium global telah mencatat lebih dari seribu FRB, para astronom baru berhasil mengidentifikasi kurang dari seratus galaksi induknya.

Mengetahui jarak pasti sangat penting untuk mengukur materi kosmik.

Dengan menganalisis dispersi sinyal dari 69 semburan, tim menyusun sensus definitif materi baryonik di alam semesta lokal: 76% mengapung sebagai gas difus di ruang antargalaksi, 15% berada di halo galaksi, dan 9% terkurung di dalam galaksi dalam bentuk bintang atau gas antarbintang dingin.

Distribusi ini sesuai dengan prediksi model kosmologi standar. Namun, ini adalah pertama kalinya angka-angka tersebut dikonfirmasi melalui observasi langsung, bukan simulasi komputer.

Keberhasilan ini membuka jalan bagi penggunaan FRB untuk menjawab pertanyaan fisika fundamental lainnya.

Misalnya, dengan menganalisis bagaimana baryon mengelompok, para peneliti dapat menghitung massa neutrino yang selama ini sulit diukur.

Teleskop radio DSA-2000 yang direncanakan dibangun di Gurun Nevada oleh Caltech akan mampu mendeteksi dan melokalisasi hingga 10.000 FRB setiap tahun.

>>> Teknologi AI Bantu Kenali Kondisi Kulit Sebelum Beli Skincare

Hal ini diprediksi akan mempercepat penemuan-penemuan baru.