Banyak orang tergoda membeli produk skincare yang sedang viral di media sosial tanpa memahami kebutuhan kulit sendiri.

Padahal, setiap jenis kulit memiliki karakteristik berbeda, sehingga produk yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain.

>>> Tolak Jalur Damai, Kader PSI Beri 'Wejangan' untuk dr. Tifa

Akibatnya, tak sedikit yang kecewa karena skincare tidak bekerja sesuai harapan, bahkan menimbulkan masalah baru seperti iritasi, jerawat, atau kulit semakin sensitif.

Langkah paling penting sebelum membeli produk perawatan adalah mengenali kondisi kulit secara mendalam.

Memahami kondisi kulit tidak sekadar mengetahui apakah kulit kering, berminyak, atau kombinasi. Ada faktor lain seperti kesehatan skin barrier, tingkat hidrasi, pigmentasi, inflamasi, hingga tanda-tanda penuaan dini.

Sayangnya, banyak orang belum memiliki akses mudah untuk mendapatkan informasi tersebut. Namun, perkembangan teknologi kini mulai menjawab kebutuhan itu.

Kehadiran teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) memungkinkan masyarakat memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kulit secara lebih praktis dan personal.

Melihat kebutuhan tersebut, Erha Skincare Group memperkenalkan teknologi analisis kulit berbasis AI bernama Skin AIdentify.

Teknologi ini pertama kali diperkenalkan kepada publik melalui booth Erha dalam ajang Jakarta x Beauty 2026.

>>> PSSI Segera Umumkan Skuad Timnas untuk ASEAN Cup, Vickery dan Baker Menunggu Keppres

Skin AIdentify dikembangkan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik kulit masyarakat Indonesia, termasuk masalah yang umum terjadi di negara beriklim tropis seperti post-inflammatory hyperpigmentation (PIH) dan melasma.

Direktur Brand & Marketing Erha Skincare Group, Afril Wibisono, mengatakan bahwa teknologi ini tidak hanya memberikan gambaran kondisi kulit, tetapi juga membantu pengguna memahami langkah perawatan yang lebih tepat.