Afrianto, yang akrab disapa Anto, memunguti daun-daun gugur di lantai Hutan Ranjuri, Desa Beka, Kabupaten Sigi. Baginya, hutan bukan tempat mengambil kayu, melainkan sumber warna.

Daun-daun itu ia olah menjadi pewarna alami untuk Batik Valiri. "Selama ini batik identik dengan motif Jawa.

>>> 4 Rekomendasi Shampo Non SLS yang Aman Dipakai Setiap Hari

Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat," ujar Anto.

Hutan Ranjuri seluas sekitar sembilan hektare dijaga masyarakat adat Desa Beka secara turun-temurun. Kawasan ini menjadi ruang sakral sekaligus sumber kehidupan.

Saat banjir bandang melanda Sigi, Hutan Ranjuri menjadi benteng alami yang meredam dampaknya. Ketika kemarau, mata air dari hutan itu memenuhi kebutuhan air bersih warga.

Meski berstatus hutan produktif, pemanfaatannya diatur hukum adat. Tak ada pohon ditebang untuk Batik Valiri; hanya daun gugur yang digunakan atas kesepakatan tetua adat.

>>> Michelin Guide Resmi Hadir di Selandia Baru, Ini Daftar Restoran Berbintang 2026

Mengangkat Identitas Sigi

Sebelum mendirikan Batik Valiri pada 2019, Anto bekerja sebagai perajin batik di Palu. Ia pulang untuk menjadikan Sigi sebagai cerita utama di setiap kain.

Motif Batik Valiri terinspirasi dari identitas lokal: Pohon Rau, daun kelor, senjata guma, jejak megalitik, hingga taiganja. Proses produksinya beralih ke pewarna alami dari tumbuhan sekitar.

Sekitar sepuluh kilogram daun kering hanya cukup mewarnai lima lembar kain. Daun direbus empat jam, lalu kain dicelup berulang hingga dua puluh kali agar warna meresap sempurna.

>>> Tangis Cristiano Ronaldo saat Kenakan Jersey No.21, Tanda Penghormatan untuk Diogo Jota

Didukung program inkubasi Gampiri Interaksi, Batik Valiri menjadi contoh ekonomi restoratif yang sejalan dengan visi Kabupaten Lestari: menjaga hutan sambil meningkatkan kesejahteraan.