Bulan purnama pertama musim panas, yang secara tradisional dikenal sebagai Strawberry Moon, menerangi langit malam secara global pada Senin, 29 Juni 2026.

Fenomena ini menelusuri lintasan terendah di langit Belahan Bumi Utara dibandingkan bulan purnama lainnya tahun ini.

>>> Jackpot Mega Millions Naik Jadi Rp542 Miliar Setelah Drawing

Menurut laporan Space.

com dan EarthSky, benda langit tersebut mencapai puncak kepenuhan pada pukul 19.57 EDT (23.57 GMT) saat berada tepat di seberang matahari.

Pendiri EarthSky Deborah Byrd menjelaskan posisi rendah yang unik dari peristiwa bulan ini dalam presentasi langsung pada 24 Juni.

"Bagi kita semua di Belahan Bumi Utara, ini adalah bulan purnama terendah tahun 2026, dan salah satu bulan purnama terendah dalam beberapa dekade," kata Byrd.

Ketinggian yang rendah menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan dari permukaan bulan melewati lapisan atmosfer Bumi yang lebih tebal.

Hal ini menghamburkan panjang gelombang cahaya yang lebih pendek dan menghasilkan warna keemasan atau kuning kecokelatan, bukan merah muda.

Nama tradisional Strawberry Moon berasal dari suku asli Amerika, termasuk Algonquian, Ojibwe, Dakota, dan Lakota.

Mereka menggunakan siklus bulan untuk melacak pematangan dan panen stroberi yang matang pada bulan Juni, menurut editor astronomi Bob Berman di The Old Farmer’s Almanac.

>>> Ronald Koeman Mundur sebagai Pelatih Belanda Usai Tersingkir di Piala Dunia

Peristiwa tahun 2026 juga memenuhi syarat sebagai micromoon karena terjadi hanya satu hari setelah apogee, titik orbit bulan yang paling jauh dari Bumi.

Dr. Pamela Gay, ilmuwan senior di Planetary Science Institute, mencatat bahwa jarak tersebut membuat bulan tampak sedikit lebih kecil, tetapi perubahannya sebagian besar tidak terlihat tanpa peralatan khusus.