Abimantra menjelaskan, tapal kuda dalam kepercayaan Tionghoa dapat dimaknai sebagai harapan agar rezeki dan perjalanan hidup bisa pergi jauh.

Pada masa ketika kendaraan belum seperti sekarang, kuda menjadi simbol perjalanan dan daya jangkau.

"Dengan adanya rumah yang dinaungi tapal kuda, diharapkan rezeki kita, perjalanan manusia, bisa jauh. Sejauh kuda membawa kita," ujarnya.

Sementara cermin kerap dipasang sebagai bagian dari feng shui. Ia dipercaya dapat menangkal energi yang kurang baik.

"Kalau kita lihat, beberapa rumah ada cermin. Cermin itu feng shui, untuk menangkal pertemuan dengan tusuk sate atau kekuatan yang dipercaya negatif," kata Abimantra.

Detail-detail itu membuat perjalanan di Glodok terasa seperti membaca catatan kecil yang menempel di bangunan. Tidak selalu mencolok, tetapi menyimpan cara pandang masyarakat yang hidup di dalamnya.

Abimantra menyebut, berjalan di Glodok ini bisa terasa seperti perjalanan melintasi waktu. Bukan perjalanan jauh, tetapi cukup untuk membuka cara pandang baru tentang Jakarta.

"Time travelling.

>>> 7 Cushion High Coverage di Guardian untuk Menutupi Flek Hitam

Kita sudah balik ke 400 tahun, membuka point of view baru, bagaimana berjalan di Jakarta, menikmati Jakarta, dan mungkin merayakan keberagaman," pungkasnya.