Setelah peristiwa itu, komunitas Tionghoa perlahan kembali membangun kehidupan di kawasan Glodok. Gang-gang yang hari ini terlihat padat, berliku, dan tumbuh organik menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

"Bayangin 400 tahun berkembang secara organik. Jadi gang-gangnya ada makanan, ada rumah-rumah.

Umurnya bayangin sudah lebih dari 300 tahun," kata Abimantra.

Dari Pancoran ke Petak Sembilan

Rute perjalanan dimulai dari kawasan Pancoran Glodok. Nama Pancoran lekat dengan cerita tentang sumber air.

Dalam penjelasan Abimantra, kawasan itu dahulu berkaitan dengan pancuran air yang menjadi salah satu penanda penting di area tersebut.

Sementara nama Glodok, dalam cerita lokal, kerap dikaitkan dengan bunyi air dari kincir kayu. "Glodoknya dari mana?

Sumber mata air itu dulu ada kincir penggerak dari kayu, bunyinya 'glodok, glodok, glodok'. Itu cerita lokal, tapi saya percaya karena masuk akal," jelas Abimantra.

Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Pasar Pancoran dan Petak Sembilan.

Kawasan ini memperlihatkan denyut Glodok sehari-hari, mulai dari toko obat tradisional, pasar, rumah ibadah, toko makanan, dan gang-gang kecil yang berdiri berdekatan.

Di Petak Sembilan, jejak komunitas Tionghoa terasa kuat. Toko obat menjadi salah satu pemandangan yang mudah ditemukan.

Hal ini tidak lepas dari tradisi pengobatan Tionghoa yang sejak lama dikenal di kawasan tersebut.

"Kalau orang Tionghoa misalnya, kalau enggak ke tabib ya ke dukun. Orang Tionghoa juga sangat dikenal dengan traditional Chinese medicine-nya.

Di Petak Sembilan, kita akan banyak menemukan toko obat," jelas Abimantra.

Gang Gloria dan Aroma Makanan Lama

Setelahnya, perjalanan berlanjut ke Gang Gloria, salah satu lorong kuliner yang sudah lama menjadi tujuan pemburu makanan di Glodok.