"Ini Gang Gloria. Dulu ada pertokoan Gloria di sini, dan ini berkembang berapa ratus tahun," kata Abimantra.

Di kawasan ini, pengunjung bisa menemukan beragam makanan legendaris.

"Di sini ada Kopi Es Tak Kie, Kari Lam, kari daging dengan kentang, otak-otak, nasi hainam, pangkas rambut yang sudah beberapa generasi, sampai soto betawi khas Tionghoa," imbuhnya.

Di satu sisi, lorong ini ramai oleh pengunjung yang datang untuk mencicipi makanan.

Di sisi lain, setiap toko membawa cerita tentang keluarga, usaha turun-temurun, dan cara komunitas bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

>>> Tembok Rumah Retak Ditutup Pakai Apa? Ini 4 Pilihan Material yang Bisa Dicoba

Vihara, Gereja, dan Usia Kota

Salah satu titik penting dalam perjalanan ini adalah Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Ie di Petak Sembilan.

Vihara ini disebut berdiri sejak 1650 dan menjadi salah satu penanda tua keberadaan komunitas Tionghoa di Jakarta.

Bagi Abimantra, yang juga seorang arsitek, rumah ibadah seperti vihara bisa menjadi petunjuk untuk membaca usia sebuah kawasan.

Di banyak titik lama Jakarta, keberadaan vihara sering berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan titik temu masyarakat.

"Biasanya di setiap area di Jakarta, kalau kita mau mengenali area tertua, ada viharanya," ujar Abimantra. Arsitektur vihara juga menyimpan cerita.

Ornamen naga di atap, bentuk sayap bangunan, hingga susunan ruang menjadi tanda yang membedakan rumah ibadah dan rumah tinggal.

Meski begitu, tidak semua bangunan tua di Glodok mudah dibaca hanya dari fungsinya hari ini.

Ada rumah tinggal lama milik kapitan Tionghoa yang kemudian berubah fungsi menjadi gereja, yakni Gereja Santa Maria de Fatima.