Badan Pusat Statistik (BPS) siap memetakan potensi besar ekonomi kreatif secara utuh melalui Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). Sensus ini digelar pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Sebanyak 251 ribu petugas sensus akan melakukan pendataan usaha secara door to door di seluruh Indonesia.

>>> Prabowo Puji 1.000 SPPG Polri: Dapur MBG Terbaik

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengibaratkan sensus ekonomi sebagai rekam medis perekonomian Indonesia.

"Ketika kita memiliki data yang lengkap dan akurat, maka kebijakan yang dihasilkan akan semakin tepat sasaran," kata Amalia dalam kegiatan Pencanangan dan Ngisi Bareng (Ngibar) SE2026 di Jakarta, Senin (29/6).

Acara tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar dan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.

Amalia mengajak seluruh pegiat usaha memberikan informasi yang benar, karena kerahasiaan data dijamin undang-undang.

Kontribusi Ekonomi Kreatif

Pada 2025, BPS mencatat kontribusi sektor ekonomi kreatif mencapai 7,38 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Pertumbuhannya mencapai 6,86 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen.

Ekonomi kreatif juga menyerap 27,40 juta tenaga kerja atau 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan penyerapan tenaga kerja ekonomi kreatif terbesar, mencapai 6,24 juta orang.

Data BPS tersebut mencerminkan bahwa ekonomi kreatif telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

>>> Mahfud MD Sebut Vonis Anak Buah Jadi Pintu Masuk Jerat Nadiem Makarim

Sektor ini berperan dalam penciptaan lapangan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi seperti kuliner, fesyen, musik, film, desain komunikasi visual, hingga pengembangan aplikasi digital.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut SE2026 akan menjadi dasar penting untuk memetakan persebaran dan potensi subsektor ekonomi kreatif di seluruh Indonesia.