Gaikindo Akui Insentif Mobil Listrik Saja Tak Cukup Dongkrak Penjualan
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengakui bahwa insentif untuk kendaraan listrik (EV) saja tidak cukup untuk mendongkrak penjualan mobil di Tanah Air.
Ketua Harian Gaikindo, Anton Kumonty, menyatakan bahwa berbagai kebijakan pemerintah selama ini telah berperan penting dalam menjaga daya saing industri otomotif.
>>> Kemnaker Buka Pendaftaran Program Magang Nasional 2026, Gaji Peserta Capai Rp6 Juta per Bulan
Namun, ia menilai perlu ada perluasan stimulus untuk seluruh jenis kendaraan.
"Berbagai kebijakan yang diterapkan, mulai dari pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, hingga forum dialog yang rutin dengan pelaku industri, merupakan bentuk nyata upaya pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia," kata Anton dalam keterangan resmi, Senin (29/6).
Menurut Gaikindo, kebijakan seperti User Specific Duty-Free Scheme (USDFS) dan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) telah membantu industri.
Namun, insentif yang hanya difokuskan pada EV dinilai belum optimal.
Pemerintah sebelumnya merencanakan insentif untuk 200 ribu kendaraan listrik, terdiri dari 100 ribu mobil listrik dan 100 ribu sepeda motor listrik.
Program ini sempat dijadwalkan mulai Juni, namun ditunda hingga Agustus.
>>> Kontingen Gereja Kepri Terlantar di Bandara, Anggaran Rp1,8 Miliar Dipertanyakan
Skema insentif meliputi diskon PPN DTP untuk mobil listrik sebesar 40 hingga 100 persen, tergantung kandungan nikel pada baterai.
Sementara untuk motor listrik, disiapkan subsidi Rp5 juta per unit.
Usulan Perluasan Stimulus
Gaikindo mengusulkan agar pemerintah memberikan stimulus yang lebih merata untuk semua teknologi kendaraan, mulai dari kendaraan bermesin konvensional (ICE), hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), hingga kendaraan listrik murni (BEV).
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menambahkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik besar bagi investor otomotif global.
Selain perusahaan Jepang, produsen asal Tiongkok juga mulai tertarik berinvestasi.
"Melihat dukungan dari pemerintah terhadap industri otomotif Jepang di Indonesia, beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini sedang mulai berinvestasi di Indonesia menyatakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan yang sama," ujar Jongkie.
>>> Seskab Teddy Ungkap Cara Prabowo Atasi Pengangguran Sarjana, Gaji Magang Rp6 Juta
Menurutnya, hal ini menjadi sinyal positif bahwa industri otomotif Indonesia masih memiliki magnet besar bagi para produsen. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mendukung semua segmen kendaraan.
Update Terbaru
Rudi Garcia Bela Skuad Belgia Jelang Lawan Senegal di Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 08:43 WIB
HUT ke-75, IBI Jatim Tegaskan Komitmen Tingkatkan Layanan Ibu dan Anak
Rabu / 01-07-2026, 08:43 WIB
Alannah Keyser Bicara soal Hujatan Akibat Video Ucapan Rasis
Rabu / 01-07-2026, 08:42 WIB
Cara Buat Username WhatsApp: Aturan dan Langkahnya
Rabu / 01-07-2026, 08:42 WIB
7 Tanda Ginjal Bermasalah yang Bisa Terlihat di Kulit
Rabu / 01-07-2026, 08:42 WIB
Komparasi JETOUR T1 dan Pesaingnya: Mana yang Lebih Unggul?
Rabu / 01-07-2026, 08:42 WIB
Daftar 6 Tim Tersingkir di 32 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 08:42 WIB
Rob Kardashian Tersenyum Lebar di Foto Keluarga Langka
Rabu / 01-07-2026, 08:40 WIB
Dilema Pajak JHT: Haruskah Tabungan Hari Tua Tetap Dipotong Pajak?
Rabu / 01-07-2026, 08:40 WIB
Polisi Diserang saat Selamatkan Wanita yang Disekap Eks Pacar di Kendari
Rabu / 01-07-2026, 08:40 WIB
Kylian Mbappe Soal Prancis Jumpa Paraguay di 16 Besar: Itu Nanti, Fokus Saya Mencari AC Sekarang!
Rabu / 01-07-2026, 08:36 WIB
Swedia Digilas Tiga Gol, Gary Neville Sebut Timnas Perancis Berada di Level yang Berbeda
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Honda Jual Accord ke-15 Juta di AS, Adik Pembeli Pertama Jadi Pemilik ke-15.000.001
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Irak Tangkap 47 Pejabat Korupsi, Termasuk Anggota DPR
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB






