Sudirman Said: Kerusakan Tata Kelola Ancam Ekonomi Nasional
Kemunduran tata kelola pemerintahan tidak hanya berdampak pada kualitas demokrasi, tetapi juga berisiko menghambat iklim investasi, daya saing ekonomi, dan kinerja industri nasional.
Hal itu menjadi sorotan dalam diskusi di Universitas Harkat Negeri yang menghadirkan mantan Ketua KPK Agus Rahardjo dan mantan Menteri ESDM Sudirman Said.
>>> Bitcoin Jeblok ke Bawah US$60.000, Investor Ramai-Ramai Amankan Dana
Keduanya menilai capaian Reformasi 1998 yang menjadi fondasi perbaikan tata kelola negara tengah mengalami kemunduran serius.
Menurut Sudirman, lemahnya integritas dalam penyelenggaraan pemerintahan telah menciptakan persoalan struktural yang berpotensi mengganggu efektivitas institusi negara dan kepastian hukum yang dibutuhkan dunia usaha.
"Rusak strukturnya, rusak orangnya, dan rusak kulturnya," kata Sudirman, Rabu (25/6/2026), saat menggambarkan kondisi tata kelola pemerintahan saat ini.
Ia menilai Indonesia sedang menghadapi tiga defisit sekaligus, yakni defisit moralitas dan etika bernegara, defisit intelektual, serta defisit spiritual.
Menurutnya, akar persoalan tersebut berasal dari kepemimpinan yang gagal menjadi teladan dan tidak mampu menjaga kualitas tata kelola publik.
Dampak Ekonomi dari Tata Kelola Lemah
Dalam perspektif ekonomi, tata kelola yang lemah berpotensi meningkatkan biaya investasi dan memperbesar risiko bisnis.
Kepastian hukum, transparansi kebijakan, serta efektivitas institusi merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan investor dalam menanamkan modal dan mengembangkan usaha.
Sudirman merujuk pada buku Ruling Indonesia karya Marcus Mietzner yang menempatkan kepemimpinan sebagai faktor utama dalam membentuk kualitas tata kelola negara.
Karena itu, ia menilai perbaikan harus dimulai dari reformasi kepemimpinan melalui penguatan institusi dan integritas pejabat publik.
Sementara itu, Agus Rahardjo mengingatkan bahwa Reformasi 1998 telah melahirkan sejumlah lembaga yang berperan penting dalam memperkuat sistem ekonomi dan keuangan nasional.
Update Terbaru
Psikolog Ungkap Alasan Remaja Sering Membantah, Bisa Jadi Tanda Positif
Rabu / 01-07-2026, 09:10 WIB
Arc Raiders Terapkan Denuvo Anti-Cheat untuk Semua Pemain, Embark Siapkan Pembaruan Lebih Besar
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Game Terakhir dari Art Director Half-Life 2 dan Dishonored Terungkap: Soulslike FPS Pertama di Dunia
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Trump Ungkap Pendapatan Kripto Lebih dari Rp15 Triliun
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Mike Tyson Rayakan Ultah ke-60 di Miami, Dunia Tinju Hormati Legenda
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Ekuador Protes Gangguan Suporter Meksiko di Hotel Timnas
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Lebih dari 150 Orang Terinfeksi Cyclosporiasis di Michigan Tenggara
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Pertamina Resmi Turunkan Harga BBM Nonsubsidi per 1 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 08:55 WIB
Altos Computing Dorong Adopsi AI untuk Percepat Transformasi Digital di Indonesia
Rabu / 01-07-2026, 08:55 WIB
Promo Kabel USB-C 3-Pack Hanya Rp100 Ribuan, Pas untuk Stok Cadangan
Rabu / 01-07-2026, 08:55 WIB
Sosialis Demokrat Tantang Petahana Demokrat di Primer Colorado
Rabu / 01-07-2026, 08:50 WIB
Nadiem Makarim Dituntut Bayar Rp809 Miliar, Harta Tak Sampai Segitu
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB
Betrand Peto Ogah Minta Maaf soal Sindiran di Medsos ke Kubu Sarwendah
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB
Latsarmil Kopdes Diubah, Biaya Rp45 Juta Per Orang Masih Misteri
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB






