Ilmuwan Berhasil Mengintip Permukaan Super-Bumi Terdekat
Mereka membagi rentang ini ke dalam kelompok data sempit untuk mencatat tingkat kecerahan spesifik, menciptakan spektrum mineralogi. Tim kemudian membandingkan spektrum exoplanet dengan pengukuran laboratorium batuan terestrial.
Dua kecocokan terdekat adalah batuan kaya olivin dari California dan sampel basal dari letusan gunung berapi Kilauea 1919 di Hawaii.
>>> REDMI K90 Ultra Resmi Meluncur 30 Juni, Bawa Snapdragon 8 Elite dan Kipas Pendingin Aktif
Keduanya adalah jenis batuan rendah silika yang kaya akan besi dan magnesium.
Yang penting, data sepenuhnya mengesampingkan segala sesuatu yang menyerupai kerak benua kaya silika seperti Bumi.
Para astronom tidak menemukan bukti adanya granit atau mineral kuarsa di dunia asing tersebut.
Lanskap Kuno yang Lapuk
Data spektral juga mengeliminasi kemungkinan permukaan yang tertutup abu vulkanik segar berbutir halus, yang akan menghasilkan karakteristik yang berbeda.
Sebaliknya, profil tersebut cocok dengan medan kuno yang lapuk.
Miliaran tahun radiasi luar angkasa dan dampak mikrometeorit kemungkinan telah menggelapkan material permukaan, mirip dengan cara regolith terdegradasi di Bulan Bumi.
Bukti terkuat melawan vulkanisme aktif adalah tidak adanya gas atmosfer. Aktivitas vulkanik pada benda berbatu biasanya memuntahkan sulfur dioksida dan karbon dioksida.
Data JWST mengungkapkan batas yang sangat rendah untuk kedua gas, membuat pengeluaran gas vulkanik yang signifikan dan berkelanjutan sangat tidak mungkin.
Memperluas Batas Geologi Luar Angkasa
Keberhasilan studi ini melampaui LHS 3844 b.
Ini membuktikan bahwa spektroskopi inframerah tengah dapat mengekstrak data mineralogi yang tepat dari jarak puluhan tahun cahaya ketika diterapkan pada dunia tanpa udara yang mengorbit dekat.
Zieba, Kreidberg, dan kolaborator mereka sudah bersiap untuk fase penelitian berikutnya.
Mereka berencana menggunakan teknik yang sama pada exoplanet berbatu lainnya untuk membedakan batuan padat dari kerikil lepas yang hancur.
>>> Creative Luncurkan Speaker Desktop XF1 dengan DAC Bawaan, Bluetooth 6.0, dan Output 72W RMS
Dengan melakukan itu, mereka berharap dapat mentransisikan ilmu exoplanet dari mempelajari langit jauh hingga mendokumentasikan tanah asing.
Update Terbaru
Pasokan Air Falls Lake Tetap, Satu Pengguna Didenda Akibat Pelanggaran Air
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Anthropic Rambah Bisnis Obat, Fokus pada Penyakit Terabaikan
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Boy Arnez Banjir Tawaran Klub Luar Negeri Usai Juara AVC Cup 2026
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Toko Buku di Apex Tutup Akibat Kenaikan Sewa 64%, Bisnis Lain Terancam
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Tebak Bintang Netflix dalam Galeri Foto Panas SZA
Rabu / 01-07-2026, 16:14 WIB
Taylor Parker Klaim Korban Minta Bayinya Dikeluarkan
Rabu / 01-07-2026, 16:14 WIB
Golkar Panggil Anggota DPRD Terkait Dugaan Intimidasi Dokter Icha
Rabu / 01-07-2026, 16:14 WIB
Ogah Keluarkan Dekrit Demi Piala Dunia, Presiden Kolombia Mundur Jadi Tuan Rumah
Rabu / 01-07-2026, 16:14 WIB
PDIP Tanggapi Isu Capres Harus Diusung 3 Partai Parlemen
Rabu / 01-07-2026, 16:14 WIB
Ducati Mulai Sadari Ancaman Bagnaia di Musim Depan
Rabu / 01-07-2026, 16:14 WIB
Harvey Weinstein Alami Gagal Jantung di Rikers Island
Rabu / 01-07-2026, 16:10 WIB
Ledakan di Kawasan Industri Candi Semarang Tewaskan Satu Pekerja
Rabu / 01-07-2026, 16:10 WIB
Polisi Blokir Lima Rekening di Kasus Penipuan Umrah Hanania Travel
Rabu / 01-07-2026, 16:10 WIB
Bukan Messi atau Ronaldo, Legenda Prancis Jagokan Michael Olise Raih Ballon d'Or
Rabu / 01-07-2026, 16:08 WIB






