Temuan Geologi di Australia Ubah Perkiraan Usia Tambang Bijih Besi
Sebuah studi geologi mengungkap bahwa deposit bijih besi raksasa di Hamersley Province, Australia Barat, terbentuk jauh lebih muda dari perkiraan sebelumnya.
Tim peneliti yang dipimpin Dr. Liam Courtney-Davies menggunakan teknik geokronologi baru untuk menentukan usia mineral oksida besi secara langsung.
>>> Yayasan Amanah Hadirkan Gerakan Pangan Murah untuk Aceh
Hasilnya menunjukkan deposit tersebut terbentuk antara 1,4 hingga 1,1 miliar tahun lalu, sekitar satu miliar tahun lebih muda dari estimasi lama 2,2 miliar tahun.
Dampak pada Eksplorasi Global
Usia baru ini menempatkan pembentukan deposit Hamersley pada periode pecahnya superbenua Columbia dan penyatuan awal Australia.
Periode tersebut ditandai aktivitas tektonik intens yang mendorong fluida kaya mineral melalui kerak benua.
Menurut Dr. Martin Danišik, rekan penulis studi, temuan ini menunjukkan deposit besi raksasa terbentuk bersamaan dengan peristiwa tektonik besar.
Para ahli kini dapat menargetkan tanda tektonik yang lebih spesifik saat mencari cadangan baru di seluruh dunia.
Dr. Courtney-Davies menambahkan bahwa temuan ini menulis ulang bab pembentukan mineral dan proses geologi skala besar.
Proses Pembentukan Bijih Premium
Penelitian juga menjelaskan mengapa bijih Hamersley memiliki konsentrasi besi sangat tinggi, mencapai lebih dari 60 persen.
>>> Forum Masyarakat Jember Dukung Pemerintah Lanjutkan Program MBG
Formasi besi berlapis awalnya hanya mengandung sekitar 30 persen besi, sesuai rata-rata global.
Proses pengayaan sekunder terjadi saat pergeseran tektonik, di mana fluida kerak dalam melarutkan mineral ringan seperti silika dan meninggalkan besi pekat.
Penanggalan baru ini memastikan kapan transformasi dari batuan kadar rendah menjadi bijih kadar tinggi terjadi.
Nilai Ekonomi dan Kolaborasi Industri
Australia Barat mengekspor bijih besi senilai sekitar 131 miliar dolar AUD per tahun, menjadi ekspor tunggal terbesar negara itu.
Nilai total cadangan Hamersley diperkirakan antara 5,7 hingga 6 triliun dolar AS, namun bijih tersebut telah tercatat dalam inventaris perusahaan selama puluhan tahun.
Studi ini mengubah narasi geologi wilayah Pilbara, bukan volume komersialnya, dan menawarkan kerangka baru untuk mengidentifikasi deposit global di masa depan.
Penelitian dilakukan di Curtin University bekerja sama dengan University of Western Australia, Rio Tinto, dan CSIRO Mineral Resources.
Dukungan finansial dan operasional juga diberikan oleh BHP, Fortescue, Roy Hill, dan Minerals Research Institute of Western Australia.
Update Terbaru
Gelombang Panas dan Badai Ancam Perayaan 4 Juli di AS
Rabu / 01-07-2026, 16:22 WIB
Calon PM Inggris Lebih Suka di Warrington daripada Washington, tapi Kebijakan Luar Negeri Akan Mendominasi
Rabu / 01-07-2026, 16:22 WIB
Prancis dan Norwegia Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
ABC Indonesia Perkuat Komitmen Keamanan Pangan Lewat Program Manajemen Risiko BPOM
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Api Belum Padam, Kebakaran TPA Jatiwaringin Berstatus Tanggap Darurat
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Taylor Swift Siapkan Banyak Gaun Pengantin, Terinspirasi dari Elizabeth Taylor
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Emina Glosszilla Lip Jelly Vinyl, Lip Cream Glossy Ringan dengan Efek Bibir Plumpy
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Sah! Ojol Resmi Jadi UMKM Mulai 1 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 16:20 WIB
Laporan Etik AS: Trump Kantongi Rp21,5 T dari Bisnis Kripto Keluarga
Rabu / 01-07-2026, 16:20 WIB
Kapolri Akui Polri Belum Sempurna, Terbuka Terima Kritik
Rabu / 01-07-2026, 16:20 WIB
Pasokan Air Falls Lake Tetap, Satu Pengguna Didenda Akibat Pelanggaran Air
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Anthropic Rambah Bisnis Obat, Fokus pada Penyakit Terabaikan
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Boy Arnez Banjir Tawaran Klub Luar Negeri Usai Juara AVC Cup 2026
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB
Toko Buku di Apex Tutup Akibat Kenaikan Sewa 64%, Bisnis Lain Terancam
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB






