Andy Burnham, yang diprediksi menjadi Perdana Menteri Inggris berikutnya, mungkin lebih betah di Warrington daripada Washington. Namun, kebijakan luar negeri dipastikan akan mendominasi agendanya.

Jika beruntung, Burnham akan mendapat sedikit waktu untuk menyesuaikan diri sebelum menghadapi krisis internasional pertamanya. Tapi itu tak akan lama.

>>> Prancis dan Norwegia Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia

Donald Trump adalah mesin kekacauan yang terus bergerak. Guncangan dari petualangan militernya di Timur Tengah akan terasa selama bertahun-tahun.

Tak satu pun tujuan perang yang dicanangkan tercapai. Rezim Iran tidak runtuh.

Gencatan senjata yang disepakati justru memberi Teheran keringanan sanksi yang lebih besar dengan syarat lebih sedikit dibandingkan kesepakatan nuklir 2015.

Ini adalah kesepakatan yang lebih buruk dari yang dibuang Trump pada masa jabatan pertamanya. Stok amunisi dan kredibilitas AS terkuras habis.

Bagi Trump, ini adalah kesalahan strategis dan penghinaan. Karena tak bisa mengakui kesalahan, harga dirinya yang terluka akan dibalas dengan dendam.

Pemimpin otoriter yang terluka biasanya mengkompensasi kelemahan dengan menunjukkan kekuatan yang lebih agresif. Proses serupa juga terjadi di Kremlin.

Vladimir Putin menolak menerima bahwa upaya penaklukannya atas Ukraina gagal. Dalam pikirannya, perang ini adalah pertempuran eksistensial untuk menjaga kehormatan nasional Rusia.

Kurangnya kemajuan di garis depan akan memicu agresi di tempat lain. Sekutu Kyiv bisa mengharapkan lebih banyak provokasi Rusia, seperti sabotase, serangan drone, dan serangan siber.

Dukungan AS untuk menghadapi provokasi itu diperkirakan akan berkurang. Inilah mengapa rencana investasi pertahanan (Dip) yang dirilis Selasa lalu sangat penting.

Keterlambatan penyelesaian Dip sangat memalukan bagi Keir Starmer. Mengelola situasi global yang berbahaya seharusnya menjadi keahliannya.