China Kembangkan Sel Bahan Bakar Batubara Tanpa Emisi, CO2 Terperangkap
Ketertarikan China pada teknologi ini tidak lepas dari fakta bahwa batubara masih menjadi tulang punggung energi.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat China mengonsumsi 30% lebih banyak batubara daripada gabungan negara lain di dunia.
Meskipun pembangkit listrik batubara China turun sekitar 1,5% pada 2025, negara itu masih menambah hampir 80 gigawatt kapasitas batubara untuk kebutuhan puncak dan keamanan energi.
>>> Isi Surat Rahasia Mojtaba Khamenei yang Bocor dan Ungkap Iran Terpecah
Pada 16 Juni 2026, Reuters melaporkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil China naik 2,1% pada Mei dibanding tahun sebelumnya karena kondisi angin lemah membatasi output energi terbarukan.
Dengan oksidasi elektrokimia, teknologi sel bahan bakar ini bertujuan menghasilkan daya sambil menjebak CO2 untuk ditangkap dan digunakan kembali.
Penelitian juga mengarah pada kemungkinan futuristik: alih-alih menggali batubara dari tambang dalam, sistem ini suatu hari bisa menghasilkan listrik lebih dekat ke endapan batubara bawah tanah dan mengirim daya ke permukaan.
Targetnya adalah formasi batubara lebih dari 6.560 kaki di bawah tanah, di mana ekstraksi menjadi lebih sulit dan berbahaya.
Para peneliti melihat ZC-DCFC sebagai alat potensial untuk konversi langsung sumber daya batubara dalam situ, meskipun itu masih tantangan teknik besar.
Bagi perusahaan listrik, klaim lingkungan hanya setengah cerita.
Efisiensi adalah bagian lainnya, karena sistem yang mengekstrak lebih banyak listrik dari bahan bakar yang sama bisa mengubah biaya operasi.
China Daily melaporkan bahwa teknologi seperti Integrated Gasification Combined Cycle terbatas pada tingkat konversi sekitar 45% dan dapat memancarkan lebih dari 1,8 pon CO2 per kilowatt-jam.
Metode baru ini bertujuan melewati pembakaran tradisional dan mengubah energi kimia batubara langsung menjadi listrik.
Studi ini tidak mengklaim teknologi siap menggantikan pembangkit listrik dalam waktu dekat.
Ringkasan makalah menunjukkan tantangan utama termasuk pasokan bahan bakar, material, konversi CO2 in-situ, dan kebutuhan pengembangan masa depan.
Batubara harus diubah menjadi bentuk yang lebih bersih dan reaktif, yang melibatkan persiapan bubur, penghilangan kotoran, pengeringan, dan aktivasi permukaan.
>>> Prabowo Ungkap Laporan Ekspor Palsu Sebabkan RI Tekor Rp16.220 Triliun
Ini jauh lebih rumit daripada sekadar menyekop bahan bakar ke tungku.
Update Terbaru
Trossard Tunda Bahas Masa Depan di Arsenal, Besiktas dan Klub Arab Saudi Berminat
Rabu / 01-07-2026, 16:01 WIB
Anniversary ke-9 Free Fire: Festival di Jogja & Grand Finals FFNS Fall
Rabu / 01-07-2026, 16:01 WIB
Village People: Vokalis Victor Willis Meninggal di Usia 75 Tahun
Rabu / 01-07-2026, 16:00 WIB
Sekjen Kemendagri Minta 174 Pemda Sempurnakan Data Calon Penerima BSPS
Rabu / 01-07-2026, 16:00 WIB
Penampakan Stiker Dilarang Beli BBM Bagi Penunggak Pajak Kendaraan di NTT
Rabu / 01-07-2026, 16:00 WIB
Mendagri Tito Karnavian Hadiri Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas
Rabu / 01-07-2026, 16:00 WIB
DKI Jakarta Terbitkan Obligasi Daerah Rp3,5 Triliun, yang Pertama di Indonesia
Rabu / 01-07-2026, 16:00 WIB
Solo Leveling on Ice Umumkan Pemeran Baru Sung Jinwoo untuk Pertunjukan Agustus di Seoul
Rabu / 01-07-2026, 15:57 WIB
One Piece Live-Action Season 3 Selesai Syuting, Netflix Konfirmasi Rilis 2027
Rabu / 01-07-2026, 15:56 WIB
Perbedaan iPhone Bekas, Inter, dan Bypass: Jangan Salah Pilih Sebelum Membeli
Rabu / 01-07-2026, 15:56 WIB
Biwin Luncurkan SSD M560 PCIe 5.0 dengan Kecepatan Baca 11.000 MB/s
Rabu / 01-07-2026, 15:56 WIB
Google Dikabarkan Kembangkan Aplikasi Signature untuk Tanda Tangan Digital
Rabu / 01-07-2026, 15:56 WIB
TSM Hadirkan Karakter Viral "Nailoong" untuk Pertama Kali di Bandung
Rabu / 01-07-2026, 15:56 WIB
Studi Ungkap Anak Muda Alami Penuaan Biologis Lebih Cepat
Rabu / 01-07-2026, 15:56 WIB






