Sejumlah warga Iran di dalam dan luar negeri menyambut kabar kematian Khamenei dengan harapan perubahan. Masoud Ghodrat Abadi, insinyur asal Iran yang kini tinggal di Amerika Serikat, mengatakan momen tersebut bisa menjadi awal babak baru bagi negaranya.

“Khamenei sudah meninggal. Ini hari terbaik dalam hidup saya. Ini hari yang mulia bagi Iran,” ujarnya kepada CNBC.

“Saya percaya kematiannya bisa menandai awal babak baru dalam sejarah bangsa kami ... Dalam jangka panjang, saya berharap momen ini akan menjadi titik transformasi,” lanjutnya.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa euforia tidak otomatis berarti perubahan sistem. Council on Foreign Relations menilai penghilangan figur Khamenei tidak serta-merta berarti pergantian rezim karena struktur utama kekuasaan tetap berada pada Korps Garda Revolusi Islam.

Tiga Skenario Transisi

Menurut Council on Foreign Relations, terdapat tiga kemungkinan arah transisi: kesinambungan rezim, pengambilalihan oleh militer, atau runtuhnya sistem.

Dalam skenario kesinambungan, Iran berpotensi mengalami apa yang disebut sebagai “Khamenei-isme tanpa Khamenei.” Pemimpin baru harus beradaptasi sambil mengelola ekonomi yang tertekan dengan sumber daya terbatas.

Skenario dominasi militer yang lebih kuat pun dinilai tidak otomatis membawa reformasi ekonomi. Tantangan berupa inflasi tinggi dan mata uang yang melemah tetap menjadi hambatan struktural.

Marko Papic, Kepala Strategi Clocktower Group, menyebut masa depan ekonomi Iran sangat bergantung pada sikap pemimpin berikutnya terhadap negosiasi dengan Amerika Serikat.

“Ekonomi Iran segera menjadi tempat parkir kecuali Pemimpin Tertinggi berikutnya lebih bersedia bernegosiasi dengan AS,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika pemimpin baru tetap berhaluan keras dan melanjutkan konfrontasi regional, operasi militer AS akan bersifat menghukum dan Iran bisa kembali ke “Abad Pertengahan.”