Setelah aksi tersebut, INTP masih menyimpan 84.529.400 saham treasury dari buyback 2021–2022 yang belum ditentukan skema pengalihannya.

Selain itu, dari program buyback terbaru periode Mei hingga Desember 2024, perseroan kembali mengoleksi 81.099.500 saham dengan harga rata-rata Rp6.967 per saham yang juga wajib dialihkan sesuai ketentuan regulator.

in1

Hingga akhir Desember 2025, kepemilikan pengendali INTP masih dipegang Heidelberg Materials AG sebesar 53,4%.

Adapun total saham treasury yang masih dimiliki perusahaan mencapai 210.492.400 saham atau sekitar 5,99% dari modal disetor, sementara kepemilikan publik tercatat sebesar 40,37%.

Berbeda dengan INTP, PT Bank CIMB Niaga Tbk memilih mengalihkan saham hasil buyback untuk keperluan remunerasi manajemen dalam bentuk saham kepada Material Risk Taker.

Direktur Sumber Daya Manusia CIMB Niaga Joni Raini mengungkapkan perseroan melakukan buyback sebanyak 168.000 saham dengan harga rata-rata Rp2.120 per saham.

Total biaya yang dikeluarkan untuk aksi tersebut mencapai Rp357,24 juta.

Pengalihan saham dilakukan secara bertahap, yakni 56.000 saham pada 8 April 2025 dan 4.000 saham pada 29 Desember 2025.

Dengan demikian, sisa saham hasil buyback BNGA yang masih wajib dialihkan kembali tercatat sebanyak 108.000 saham.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia melakukan pengalihan 1,36 miliar saham hasil buyback senilai Rp2,71 triliun melalui mekanisme pengurangan modal.

Aksi tersebut dilakukan pada 5 Agustus 2025 atas saham hasil buyback yang dituntaskan pada periode Mei hingga Juni 2025.

Setelah pengurangan modal, ADRO masih memiliki sisa saham treasury sebanyak 589,19 juta lembar dengan nilai sekitar Rp1,13 triliun yang belum dialihkan.

Seluruh proses pengurangan modal tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS Tahunan pada 2 Juni 2025.