Hingga akhir Desember 2025, kepemilikan pengendali INTP masih dipegang Heidelberg Materials AG sebesar 53,4%.

Adapun total saham treasury yang masih dimiliki perusahaan mencapai 210.492.400 saham atau sekitar 5,99% dari modal disetor, sementara kepemilikan publik tercatat sebesar 40,37%.

Berbeda dengan INTP, PT Bank CIMB Niaga Tbk memilih mengalihkan saham hasil buyback untuk keperluan remunerasi manajemen dalam bentuk saham kepada Material Risk Taker.

Direktur Sumber Daya Manusia CIMB Niaga Joni Raini mengungkapkan perseroan melakukan buyback sebanyak 168.000 saham dengan harga rata-rata Rp2.120 per saham.

Total biaya yang dikeluarkan untuk aksi tersebut mencapai Rp357,24 juta.

Pengalihan saham dilakukan secara bertahap, yakni 56.000 saham pada 8 April 2025 dan 4.000 saham pada 29 Desember 2025.

Dengan demikian, sisa saham hasil buyback BNGA yang masih wajib dialihkan kembali tercatat sebanyak 108.000 saham.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia melakukan pengalihan 1,36 miliar saham hasil buyback senilai Rp2,71 triliun melalui mekanisme pengurangan modal.

Aksi tersebut dilakukan pada 5 Agustus 2025 atas saham hasil buyback yang dituntaskan pada periode Mei hingga Juni 2025.

Setelah pengurangan modal, ADRO masih memiliki sisa saham treasury sebanyak 589,19 juta lembar dengan nilai sekitar Rp1,13 triliun yang belum dialihkan.

Seluruh proses pengurangan modal tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS Tahunan pada 2 Juni 2025.

Aksi tersebut juga telah dilaksanakan sesuai ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas serta regulasi yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Menanggapi tren pengalihan kembali saham buyback yang terjadi hampir bersamaan, Wafi menilai langkah tersebut mencerminkan karakter perusahaan yang telah berada pada fase matang.

Menurutnya, emiten-emiten tersebut umumnya memiliki posisi kas yang kuat.

“Nunjukkin karakter perusahaan mature & cash rich,” ujarnya.

Terkait sisa saham buyback yang belum dialihkan, Wafi mengakui tetap ada potensi tekanan apabila saham tersebut dilepas kembali ke pasar.

Namun, sentimen pasar dinilai cenderung positif jika perusahaan memilih untuk memusnahkan saham tersebut.

“Ada overhang kalo nanti dijual balik ke pasar. Tapi karena posisi kas kuat, pasar cenderung optimistis sisa itu akan dimusnahkan juga, bukan dijual,” kata Wafi.