Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia tercatat melakukan pengurangan modal dengan cara mengalihkan kembali saham hasil pembelian kembali atau buyback dalam waktu yang relatif berdekatan.

Langkah tersebut dilakukan oleh beberapa perusahaan besar, di antaranya PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO).

in1

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyebut pengurangan modal melalui pemusnahan saham buyback memberikan dampak langsung terhadap struktur permodalan perusahaan.

Menurutnya, meskipun nilai ekuitas dapat menurun, jumlah saham beredar juga berkurang secara permanen sehingga rasio keuangan tertentu justru membaik.

“Ekuitas bisa turun tapi jumlah saham beredar turun permanen. Otomatis EPS dan ROE bisa naik,” ujar Wafi kepada Bloomberg Technoz, Kamis (15/1/2026).

Dari sisi valuasi, berkurangnya jumlah saham beredar dinilai mampu menghilangkan potensi dilusi di masa depan serta membuat harga saham menjadi relatif lebih menarik.

Baca juga: Biodata Tampang Bruce Leung Aktor Pemeran The Beast di Film Kung Fu Hustle yang Meninggal Dunia, Lengkap: Umur, Agama dan IG

“Setidaknya ke depan tidak ada dilusi. Valuasi jadi menarik (PER lebih murah karena EPS naik),” katanya.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk secara resmi telah mengalihkan 165.628.900 saham treasury melalui mekanisme pengurangan modal ditempatkan dan disetor penuh.

Saham tersebut berasal dari program buyback yang dilakukan pada periode 6 Desember 2021 hingga 6 Desember 2022.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia yang dikutip Senin (12/1), manajemen INTP menyampaikan bahwa perseroan sebenarnya memiliki kewajiban mengalihkan 250.158.300 saham treasury dengan harga rata-rata Rp10.930 per saham.

Alih-alih melepas kembali ke pasar, perusahaan memilih untuk memusnahkan sebagian saham tersebut melalui pengurangan modal.