Emiten Ramai Musnahkan Saham Buyback, Ini Efeknya bagi Struktur Modal

Emiten Ramai Musnahkan Saham Buyback, Ini Efeknya bagi Struktur Modal

saham-pixabay-

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia tercatat melakukan pengurangan modal dengan cara mengalihkan kembali saham hasil pembelian kembali atau buyback dalam waktu yang relatif berdekatan.

Langkah tersebut dilakukan oleh beberapa perusahaan besar, di antaranya PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO).



Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyebut pengurangan modal melalui pemusnahan saham buyback memberikan dampak langsung terhadap struktur permodalan perusahaan.

Menurutnya, meskipun nilai ekuitas dapat menurun, jumlah saham beredar juga berkurang secara permanen sehingga rasio keuangan tertentu justru membaik.

“Ekuitas bisa turun tapi jumlah saham beredar turun permanen. Otomatis EPS dan ROE bisa naik,” ujar Wafi kepada Bloomberg Technoz, Kamis (15/1/2026).


Dari sisi valuasi, berkurangnya jumlah saham beredar dinilai mampu menghilangkan potensi dilusi di masa depan serta membuat harga saham menjadi relatif lebih menarik.

Baca juga: Biodata Tampang Bruce Leung Aktor Pemeran The Beast di Film Kung Fu Hustle yang Meninggal Dunia, Lengkap: Umur, Agama dan IG

“Setidaknya ke depan tidak ada dilusi. Valuasi jadi menarik (PER lebih murah karena EPS naik),” katanya.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk secara resmi telah mengalihkan 165.628.900 saham treasury melalui mekanisme pengurangan modal ditempatkan dan disetor penuh.

Saham tersebut berasal dari program buyback yang dilakukan pada periode 6 Desember 2021 hingga 6 Desember 2022.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia yang dikutip Senin (12/1), manajemen INTP menyampaikan bahwa perseroan sebenarnya memiliki kewajiban mengalihkan 250.158.300 saham treasury dengan harga rata-rata Rp10.930 per saham.

Alih-alih melepas kembali ke pasar, perusahaan memilih untuk memusnahkan sebagian saham tersebut melalui pengurangan modal.

Setelah aksi tersebut, INTP masih menyimpan 84.529.400 saham treasury dari buyback 2021–2022 yang belum ditentukan skema pengalihannya.

Selain itu, dari program buyback terbaru periode Mei hingga Desember 2024, perseroan kembali mengoleksi 81.099.500 saham dengan harga rata-rata Rp6.967 per saham yang juga wajib dialihkan sesuai ketentuan regulator.

Hingga akhir Desember 2025, kepemilikan pengendali INTP masih dipegang Heidelberg Materials AG sebesar 53,4%.

Adapun total saham treasury yang masih dimiliki perusahaan mencapai 210.492.400 saham atau sekitar 5,99% dari modal disetor, sementara kepemilikan publik tercatat sebesar 40,37%.

Berbeda dengan INTP, PT Bank CIMB Niaga Tbk memilih mengalihkan saham hasil buyback untuk keperluan remunerasi manajemen dalam bentuk saham kepada Material Risk Taker.

Direktur Sumber Daya Manusia CIMB Niaga Joni Raini mengungkapkan perseroan melakukan buyback sebanyak 168.000 saham dengan harga rata-rata Rp2.120 per saham.

Total biaya yang dikeluarkan untuk aksi tersebut mencapai Rp357,24 juta.

Pengalihan saham dilakukan secara bertahap, yakni 56.000 saham pada 8 April 2025 dan 4.000 saham pada 29 Desember 2025.

Dengan demikian, sisa saham hasil buyback BNGA yang masih wajib dialihkan kembali tercatat sebanyak 108.000 saham.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia melakukan pengalihan 1,36 miliar saham hasil buyback senilai Rp2,71 triliun melalui mekanisme pengurangan modal.

Aksi tersebut dilakukan pada 5 Agustus 2025 atas saham hasil buyback yang dituntaskan pada periode Mei hingga Juni 2025.

Setelah pengurangan modal, ADRO masih memiliki sisa saham treasury sebanyak 589,19 juta lembar dengan nilai sekitar Rp1,13 triliun yang belum dialihkan.

Seluruh proses pengurangan modal tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS Tahunan pada 2 Juni 2025.

Aksi tersebut juga telah dilaksanakan sesuai ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas serta regulasi yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Menanggapi tren pengalihan kembali saham buyback yang terjadi hampir bersamaan, Wafi menilai langkah tersebut mencerminkan karakter perusahaan yang telah berada pada fase matang.

Menurutnya, emiten-emiten tersebut umumnya memiliki posisi kas yang kuat.

“Nunjukkin karakter perusahaan mature & cash rich,” ujarnya.

Terkait sisa saham buyback yang belum dialihkan, Wafi mengakui tetap ada potensi tekanan apabila saham tersebut dilepas kembali ke pasar.

Namun, sentimen pasar dinilai cenderung positif jika perusahaan memilih untuk memusnahkan saham tersebut.

“Ada overhang kalo nanti dijual balik ke pasar. Tapi karena posisi kas kuat, pasar cenderung optimistis sisa itu akan dimusnahkan juga, bukan dijual,” kata Wafi.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya