Kawasan Weltevreden tersebut saat ini lebih dikenal luas sebagai kawasan Gambir.

Tanah pembelian pertama itu awalnya difungsikan secara khusus untuk menanam tanaman tebu.

Setelah pensiun dari VOC, ia menetap di wilayah Serengseng atau kini Lenteng Agung.

Di sana, ia membangun sebuah rumah besar untuk tempat tinggal bersama keluarganya.

Peneliti sejarah Tri Wahyuning M. Irsyam mencatat kepindahannya membawa serta para budak.

Ia membawa sekitar 150 orang budak yang berasal dari luar pulau Jawa.

Chastelein memperlakukan para budaknya secara manusiawi semasa hidupnya.

Ia bahkan memutuskan untuk membebaskan mereka sebelum dirinya menutup usia.

Para bekas budak tersebut ditugaskan mengelola rumah besar di kawasan Serengseng.

Mereka juga bertugas mengurus perkebunan baru di Mampang dan wilayah Depok.

Lahan perkebunan itu menghasilkan komoditas bernilai tinggi seperti tebu dan lada.

Selain itu, perkebunan tersebut juga menghasilkan pala serta biji kopi.

Hasil perkebunan yang melimpah membuat kekayaan Chastelein semakin meningkat pesat.

>>> Cara Praktis Cek NISN Online 2026 Tanpa Harus Datang ke Sekolah

Ia menjadi salah satu orang terkaya di Batavia sebelum akhirnya meninggal dunia.

Cornelis Chastelein meninggal dunia pada tanggal 28 Juni 1714 yang lalu.

Sebelum wafat, ia telah menuliskan surat wasiat secara resmi pada bulan Maret.

Surat wasiat tersebut ditulis tepatnya pada tanggal 13 Maret 1714.

Ia berpesan agar seluruh harta dan tanah miliknya dibagikan kepada keluarga.

Sebagian besar hartanya juga dibagikan gratis kepada bekas budak yang dimerdekakan.

Tujuannya agar para bekas budak tersebut bisa hidup mandiri serta sejahtera.

Ia juga menginginkan tanah tersebut menjadi pusat penyebaran agama Kristen di Batavia.

Amanah itu membuat para bekas budaknya mendirikan komunitas Kristen Protestan.

Nama komunitas tersebut perlahan melekat dan mengubah sebutan wilayah pemukiman.

Keturunan dari anggota komunitas tersebut kelak dikenal sebagai kelompok Belanda Depok.

Seiring berjalannya waktu, muncul pula versi lain mengenai arti nama kota ini.

Salah satu versi populer menyebutnya sebagai singkatan Daerah Permukiman Orang Kota.

Namun, singkatan modern tersebut jelas tidak memiliki dasar historis yang kuat.

Kini, wilayah tersebut tumbuh menjadi pusat pendidikan dan pertumbuhan ekonomi baru.

>>> Pengacara Febrie Adriansyah Buka Suara soal Sutrimo yang Tewas Misterius

Keberadaan kampus besar seperti Universitas Indonesia turut mendorong perkembangan kawasan ini.