Menurut Johnson, kloning berbentuk sel itu nantinya bisa digunakan untuk menguji berbagai terapi tanpa harus langsung mencobanya pada tubuhnya sendiri.

Ia juga membayangkan teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan organ transplantasi, mengembangkan pengobatan baru, hingga menghasilkan sel-sel muda yang dapat membantu memperlambat proses penuaan.

Kontroversi dan Perdebatan

Namun, klaim tersebut langsung memicu perdebatan sengit. Sejumlah pengikutnya di media sosial menilai eksperimen itu terlalu ekstrem.

Salah satu komentar menyebut Johnson sebagai contoh orang yang memiliki terlalu banyak uang sekaligus ketakutan berlebihan terhadap kematian.

Meskipun menuai kritik, Johnson tetap teguh pada keyakinannya bahwa teknologi ini akan merevolusi pengobatan regeneratif dan memperpanjang usia manusia secara signifikan.

Para ahli di bidang bioetika juga angkat bicara. Mereka memperingatkan bahwa kloning parsial seperti ini masih berada di area abu-abu secara etika dan regulasi.

Meskipun iPSC telah digunakan dalam penelitian selama bertahun-tahun, penerapannya untuk menciptakan versi diri sendiri dalam skala besar belum pernah dilakukan sebelumnya.

>>> 7 Kandidat Sekjen PBB Bersaing Gantikan Guterres

Johnson sendiri mengakui bahwa perjalanan ini penuh tantangan, tetapi ia yakin bahwa masa depan kesehatan manusia bergantung pada inovasi-inovasi radikal semacam ini.