Selama bertahun-tahun, perusahaan AI meyakinkan investor bahwa memperbesar skala operasi adalah kunci kesuksesan. Namun, praktiknya justru menimbulkan masalah bisnis yang serius.

Menurut The Atlantic, model bahasa besar (LLM) mengalami penurunan hasil yang signifikan. Biaya inferensi—atau penggunaan model AI untuk memproses data baru—melonjak secara eksponensial.

>>> Cuplikan Eksklusif Spider-Man: Brand New Day dari Comic-Con: Spidey dan Punisher Hadapi Hulk

Kondisi ini berlawanan dengan harapan investor yang menginginkan penurunan biaya per pengguna. Sebaliknya, biaya justru meningkat, membuat teknologi ini kurang menguntungkan dibandingkan enam bulan lalu.

Industri AI telah menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun pusat data raksasa di seluruh Amerika Serikat. Namun, jalan menuju profitabilitas masih belum jelas dalam waktu dekat.

Para analis memperingatkan bahwa kekhawatiran akan gelembung AI tinggal menunggu waktu. Jika industri runtuh, dampaknya bisa menghancurkan ekonomi yang terlalu bergantung pada teknologi AI.

Meskipun demikian, perusahaan AI tetap yakin bahwa chatbot seperti ChatGPT dan Claude adalah masa depan.

>>> Final Fantasy XIV Ungkap Job Bastion dan Area Baru untuk Ekspansi 'Evercold'

Mereka sudah terintegrasi di berbagai aspek kehidupan, mulai dari sistem operasi hingga layanan pelanggan.

Namun, ada perlawanan publik yang signifikan terhadap AI, menjadi hambatan lain bagi industri. Selain itu, kebutuhan perangkat keras yang semakin besar juga menjadi tantangan.

Para ahli memperingatkan akan berakhirnya Hukum Moore, yang selama puluhan tahun menjadi acuan peningkatan daya komputasi. Tanpa terobosan baru, model AI raksasa akan semakin mahal dan tidak efisien.

Yann LeCun, salah satu 'bapak baptis' AI, telah lama memperingatkan bahwa LLM adalah jalan buntu.

>>> Shikao Suga Isi Lagu Pembuka dan Penutup Anime Horror Collector

Namun, para pemimpin teknologi yang sudah berinvestasi besar kemungkinan tidak akan mengindahkan peringatan tersebut.