Bulan Safar sering kali lekat dengan stigma dan mitos di tengah masyarakat sebagai "bulan sial" atau bulan datangnya bencana. Padahal, dalam akidah Islam, tidak ada konsep kesialan yang terikat oleh waktu. Menyambut hari Jumat, 31 Juli 2026, yang bertepatan dengan Bulan Safar, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ikhtiar langit melalui amalan tolak bala.
 
Bagi para imam masjid dan khatib yang akan bertugas, teks khutbah Jumat berbahasa Jawa tentang hakikat bulan Safar dan amalan tolak bala ini dapat menjadi rujukan yang lengkap, syar'i, dan mudah dipahami oleh jemaah.
 
Simak ulasan lengkap mengenai pelurusan mitos bulan Safar, panduan amalan, serta teks khutbahnya di bawah ini.
 

 

Meluruskan Mitos "Bulan Sial" di Safar

Di berbagai daerah, khususnya di tanah Jawa, terdapat kepercayaan turun-temurun yang menganggap bulan Safar sebagai bulan yang angker atau rawan bencana. Anggapan ini jelas bertentangan dengan prinsip tauhid dan diluruskan langsung oleh Rasulullah SAW.
 
Rasulullah SAW secara tegas menolak konsep thiyarah (merasa sial karena waktu, tempat, atau hewan). Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penularan (penyakit tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (kesialan), tidak ada hamah (burung yang dianggap membawa sial), dan tidak ada kesialan di bulan Safar."
 
Lantas, mengapa dinamakan Safar? Secara terminologi bahasa Arab, Safar berarti "sepi" atau "sunyi". Secara historis, pada masa Jahiliyah, masyarakat Arab sering meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong (sepi) pada bulan ini karena berangkat untuk berperang atau melakukan perjalanan dagang yang jauh. Jadi, "sepi" yang dimaksud adalah kondisi fisik rumah yang ditinggalkan, bukan berarti bulan tersebut kosong dari berkah atau penuh kutukan.